Rabu, 24 Oktober 2018

Idola bernama CPNS (kisah perjuangan melalui tes CPNS)


 Jika mendengar singkatan CPNS,aduhh...siapa sih yang tidak mau. Yah meski tidak semuanya mau, tapi pada umumnya masyarakat Indonesia masih berusaha untuk memperebutkan posisi-posisi itu. Salah satunya adalah saya.
       Awal lulus S1,saya belum kepikiran buat daftar yang namanya CPNS. Kalau ditanya mau jadi PNS gak? Jawaban saya, belum sekarang.entahlah nanti. Intinya saya lebih tergiur dengan kerjaan kantoran. Jadi banker misalnya. Dan Alhamdulillah, saya pernah diberi kesempatan untuk merasakan gimana sih jadi seorang banker. Meskipun cuma bertahan hampir tiga tahun,tepatnya dua tahun delapan bulan. Dengan alasan mau lanjutin kuliah, resignlah saya dari bank tempat saya bekerja.
      Setelah lulus S2, Alhamdulillah dapat jodoh juga. Dan beruntungnya, suami saya tidak pernah melarang saya menggunakan ijazah saya untuk melamar pekerjaan. Jadilah saya mendaftar sebagai dosen tetap non PNS di salah satu PTKIN di daerah saya. Alhamdulillah, lagi-lagi Doa saya dikabulkan.saya lulus jadi DTNP. 
  Setahun mengabdi sebagai DTNP, terbukalah lowongan pendaftaran CPNS 2017. Saya iseng aja ngintip-ngintip formasi yang ada. Dan ternyata, di kampus tempat saya mengabdi, ada satu formasi disen komunikasi yang diajukan. Antara senang dan tidak juga. Dalam hati, ahh... cuma satu. Sementara saingannya pasti banyak. Di kampus saya saja sudah ada teman saya sendiri. Yang pastinya kalau saya fan dia lolos CAT, pastinya kampus bakal lebih mempertimbangkan memilih teman saya, karena dia sudah mengabdi lebih lama dari saya.
   Saya langsung menyampaikan info tersebut epada suami saya yang tugasnya jauh di pegunungan sana. Kata dia, "daftar saja.toh tidak ada salahnya mencoba.siapa tau emang rejeki." Ibu sayapun berpendapat demikian. Ya udah, Bismillah saja. Daftarlah saya di formasi tersebut. Tentunya dengan berbagai dram melengkapi berkas, mulai dari akte kelahiran saya yang namanya beda dengan ijazah,ngurusin SKCK, dan masih banyak lagi, tapi Alhamdulillah berkas- berkas itupun terkirim juga.
       Saatnya pengumuman kelulusan berkas. Alhamdulillah,nama saya ada diantara lima orang yang dinyatakan lulus berkas. Ujian baru dimulai lagi. Tes CAT yang menjadi momok menakutkan setiap pelamar CPNS, mau tidak mau harus saya hadapi juga. Teman- teman yang lain sudah pada sibuk bikin kelompok belajar buat persiapan ujian CAT. Saya,masih sibuk mondar- mandir atur jadeal ngajar dan ngurusin baby. Waktu itu anak saya batu berusia empat bulan. Kebayangkan repotnya ngatur waktu belajar sambil ngurusin baby. Rencananya sih, kalau babynya tidur, disitulah kesempatan saya buat belajar. Tapi kenyataannya, kalau babynya tidur, saya juga ikut-ikutan tidur. Jadi, kapan dong saya belajarnya? Saya juga bingung mau jawab pertanyaan itu. Intinya,kalau ada kesempatan saya berusaha untuk baca-baca buku panduan test CAT warisan dari ipar saya. Saya jyga download beberapa aplikasi test CAT yang ada di app store. Jarak rumah saya ke tempat ngajar saat itu lumayan jauh. Jadilah perjalanan saya ke tempat ngajar dijadikan kesempatan buat pelajarin aplikasi- aplikasi CAT yang sudah saya download. Dan menurut saya itu ngebantu banget. Kenapa, soal- soal yang berulang menjadikan kita mudah mengingat materi- materi yang ada.khususnya TWK. Yang memang membutuhkan waktu untuk membaca materi yang buaaaanyak banget.
    Seminggu sebelum tes, barulah saya minta tolong sepupu saya buat nyariin buku pa duan tes CONS terbaru di gramedia. Dari sekian banyaknya judul buku pa duan tes CPNS, saya minta dicariin yang ada logo best sellernya.menurut saya itu yang bagus. Jujur saya baru bisa fokus belajar satu minggu menjelang hari H. Intensnya itu dua hari sebelum tes. Jadilah saya dan suami ditambah adik sepupu jadi tim belajar kelompok. Saya tipe orang yang cepat nangkap jika materinya dibacakan. Jadi, sepupu saya yang kebetulan kuliah di hukum, saya suruh buat bacain semua pasal- pasal lengkap dengan ayat- ayatnya. Dan metode itu ampuh di saya. Untuk materi TIU yang lumayan banyak dikeluhkan orang termasuk saya, tidak ada jalan lain selain perbanyak latihan soal- soal. Karena sebenarnya kunci dari TIU, model soalnya sama.cuma angkanya aja yang beda. Kalau soal- soal TKP saya rasa, selama kita masih normal dan tidak mengalami gangguan kejiwaan, in syaa Allag bisa dilahao dengan baik.
    Selasa, 24 Oktober 2017. Saya tidak mungkin melupakan hari bersejarah itu. Hari yang penuh ketegangan dalam hidup saya. Hari ini bakal menentukan gimana nasib saya kedepan. Tibalah hari ujian. Segala persiapan sudah dilakukan, selebihnya serahkan pada Sang Maha pemilik kehidupan. Saya mendapat jadwal tes pukul 12 siang. Saya diantar suami dan baby saya. Sementara saya ujian, mereka nunggu di parkiran. Bagaimana mungkin saya mau menyia-nyiakan pengorbanan mereka. Saya pamit pada suami saya, sambil cium tangan saya minta didoakan. Saya juga menelpon ibu dan mama mertua saya terlebih dahulu. Karena saya merasa pintu langit akan terbuka lebar jika Ibu mendoakan anaknya. Ritual ini yang selalu saya jalankan sebelum menjalani tes apapun. Dan Alhamdulillah selalu sukses.semoga kali ini juga demikian.
    Sebelum memasuki ruang ujian, kita dikumpulkan di satu ruangan buat mengikuti penjelasab panduan tes CAT. Saya seruangn dengan Beberapa teman yang saya kenal. Ada yang sudah mantap dengan segala persiapan, ada yang katanya tidak belajar karena lagi sibuk buat urusin nikahan, macam- macamlah cerita mereka. Saya tetap berusaha tenang untuk mengatasi rasa gugup dan deg-degan yang sebenarnya tak terbendung lagi. Dan setelah penjelas tes selesai, dipanggillah kita untuk memasuki ruang keramat,ruang ujian, atau lebih tepatnya ruang eksekusi.
        Sebelum masuk, kita digeledah terlebuh dahulu. Jangan sampai ada yang bawa catatan atau jimat dan sejenisnya.iyah..jimat.kali masih ada ditahun modern ini. Tas, handphone dan semua peralatan disimpan dalam satu ruangan khusus. Yang boleh dibawa masuk cuma pensil, KTP, FAN kartu ujian. Selebihnya No.
    Masuklah saya di ruangan penuh computer nan dingin itu. Entah mengapa, menurut saya dari situlah babak baru dimulai. Mulai dari pemilihan komputer.kenapa? Karena kita milih sendiri mau duduk dimana. Dan soal ditiap- tiap komputer itu beda- beda. Jadi benar- benar digiring oleh takdirmu. Saya memilih duduk di komputer bagian belakang.kenapa? Karena disitu masih kosong. Dan seolah ada sesuatu yang menggerakkan kaki saya kesana.
       Duduklah saya menatap komputer di hadapan saya. Belum boleh ada aktifitas sebelum ada instruksi dari panitia. Perasaan kala itu sudah tidak bisa dirangkum.Tegangnya ada, mulesnya ada, ditambah ruangan yang dingin bikin beser, semuanya campur aduk. Saat itu yang saya lakukan hanya berdoa, dan banyak beristigfar.
      Petugaspun mulai memberikan instruksi untuk login terlebih dahulu,kemudian langsung mengerjakan soal. saya mencoba login dengan akun yang saya gunakan untuk mendaftar. Bismillah... password salah.saya mengulanginya kembali. Masih salah. Saya mulai panik. Saya ulangi lagi, masih juga salah. Sayapun mengangkat tangan, dan akhirnya panitia datang. Ternyata saya memang memasukkan passwor yang salah. Harusnya saya memasukkan password yang tertulis di kartu ujian yang diberikan oleh panitia. Bukan password saat pendaftaran login CPNS. Baik. Saya kurang fokus. Setelah berhasil login, saya tidak langsung mengerjakan soal. Saya melirik kanan kiri saya, mereka sudah di soal ke lima. Saya bersandar sejenak, berusaha untuk tetap tenang. Sambil menghela nafas panjang, saya berdoa, Ya Allah... jika ini baik untuk saya, maka dekatkan. Tapi jika buruk, maka jauhkanlah.Bismillah. saya mulai mengerjakan soal.
         Dimulai dari tes TWK. saya masih ingat jelas soal pertama yang saya dapatkan adalah rumusan Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno. Alhamdulillah, saya khatam dengan soal itu. Soal-soal TWK selanjutnya kebanyakan pasal- pasal. Alhamdulillah, hasil belajar yang dibacakan oleh sepupu saya masih terbanyang- bayang. Jika mendapati soal yang sulit, saya langkahi dan memilih soal yang lebih mudah. Menurut saya untuk mengefisienkan waktu. Memasuki soal TIU, Alhamdulillah lagi saya dapat banyak soal deret. Yang menurut saya lumayan saya kuasai dibandingkan soal cerita yang lain. 45 menit tersisa, saya langsung melangkah ke soal TKP. Sekitar 15 menit saya menyelesaikan soal- soal TKP. Masih ada 30 menit tersisa. Saya kembali ke soal- soal yang saya skip tadi. Keuntungan kita di tes CAT, karena tidak ada sistem minus. Jadi dijawab saja semuanya. Kali aja jawaban tebak- tebakan kita betul. Toh jika salah juga tidak ada pengurangan nilai. 
       Sekitar 10 menit tersisa, saya masih ounya beberapa soal TIU yang belum terjawab. Dengan ilmu cocoklogi, saya berusahaa menjawab keima soal tersebut. 2 menit tersisa saya sudah menyelesaikan semua soal-soal.tapi belum berani untuk mengklik tombol selesai. Peserta di samping kiri saya sudah bersorak, Horeeee...saya lulus. Saya semakin deg- degan. Teman di samping kanan saya, tidak lulus. Ya Allah... seolah ada batu berat yang menindih tangan saya. Susaaahh sekali untuk mengklik selesai. Kemudian petugas mengatakan, silahkan diklik selesai bagi yang sudah mengerjakan soal, toh cepat atau lambat pasti nilainya bakal keluar. Hufftt.... Bismillah... dengan menutup mata dan perasaan bergemuruh, saya beranikan diri menekan tombol selesai. SELAMAT NILAI ANDA MEMENUHI PASSING GRADE.
    Saya tidak tahu bagaimana mau menggambarkan perasaan saya saat itu. Secepat kilat saya menuliskn nilai di kertas ujian.nilai yang menurut saya adalah nilai mujizat. Bagaimana tidak, nilai TIU saya pas dengan standar passing grade. Setelah itu saya kemudian balik kanan keluar ruang ujian. Saya langsung mengambil tas di ruangan sebelah. Rasanya pengen cepat- cepat turun ke parkiran dan memberitahu suami saya. Panitia seleksi sudah menunggu di depan ruangan. Diantara mereka ada yang bertanya pada saya, " bagaimana hasilnya?" Dengan senyum sumringah saya menjawab, "lulus bu". Saya menuruni anak tangga dengan berlari. Dari lantai 3 tempat ujian ke lantai satu, saya seolah tidak melewati anak tangga apapun saking senengnya. Sesampai di parkiran, ada beberapa teman dosen saya yang manggil. " bagaiman hasilnya?" Saya menjawab " Alhamdulillah lulus". Mereka memberi ucapan selamat. Setelah itu, sayapun menuju ke mobil. Dengan amat sangat bahagia dan bangga, saya memberitahu suami saya, " lulus dong sayang".
 (Bersambung)

MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

  Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi ...