Minggu, 04 Oktober 2020

MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

 



Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi yang disampaikan melalui media sosial dapat diakses oleh semua orang di segala penjuru dunia. Meskipun demikian, keakuratan informasi di media sosial juga seringkali diragukan, sebab telah banyak kasus penyebaran berita hoax yang terjadi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pengguna media sosial agar tetap berhati- hati atas informasi yang diperoleh melalui media sosial, khusunya situs jejaring sosial.

Saat ini media sosial tidak hanya dijadikan sebagai media hiburan semata, namun telah bertransformasi menjadi kebutuhan. Permasalahan yang muncul kemudian adalah, tidak semua pengguna media sosial dapat menggunakannya secara bijak. Banyak konten- konten yang tidak pantas disaksikan oleh anak- anak di bawah umur. Anak- anak yang belum matang secara psikis, akan mencerna mentah- mentah apa yang mereka saksikan kemudian mempraktekkannya. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab merosotnya moral bangsa.

Kebiasaan generasi muda mengakses media sosial dengan intens setiap hari, mau tidak mau membawa dampak bagi mental mereka. Terlebih jika apa yang mereka konsumsi di media sosial diluar dari pengawasan orang tua. Tayangan berita mengenai kejahatan di media sosial hampir tiap hari kita saksikan. Mulai dari kriminalitas, penyalahgunaan narkotika, pergaulan bebas, homoseksual, dll. Dan kebanyakan pelakunya adalah anak pada usia remaja.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai- nilai moral Pancasila. Nilai- nilai moral tersebut telah mencakup semua aspek kehidupan manusia sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Nilai- nilai moral tersebut yakni nilai- nilai yang mengatur tentang keTuhanan, kemanusiaan, pesrsatuan bangsa, kerakyatan, dan keadilan. Namun, seirig dengan perkembangan zaman, khususnya perkembangan teknologi, seolah mengikis nilai- nilai moral bangsa khususnya generasi muda.

Dekadensi moral tersusun dari dua kata, yakni ‘dekadensi’ dan ‘ moral’. Secara umum kata dekadensi dapat diartikan sebagai "penurunan" atau "kemerosotan", dalam penggunaannya, kata dekadensi lebih sering merujuk pada segi-segi sosial seperti moral, ras, bangsa, agama, sikap dan seni.

Menurut Lickona,  ada 10 indikasi gejala penurunan moral yang perlu mendapatkan perhatian agar berubah ke arah yang lebih baik, yaitu  Kekerasan dan tindakan anarki, Pencurian, Tindakan Curang, Pengabaian terhadap aturan yang berlaku, Tawuran antar siswa, Ketidaktoleran, Penggunaan bahasa yang tidak baik, Kematangan seksual, yang terlalu dini dan penyimpangannya, Sikap perusakan diri, Penyalahgunaan Narkoba. (Lickona, 2013)

perkembangan teknologi informasi khususnya media sosial telah membawa dampak bagi kemerosotan moral bangsa. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi orang tua dan tenaga pendidik sebagai ujung tombak pendidikan bangsa. Tidak ada lagi alasan bagi seorang pendidik untuk bermasa bodoh dengan fenomena sosial yang terjadi di kalangan generasi muda. Peran aktif semua pihak sekecil apapun dapat menyelamatkan masa depan bangsa.

 


Minggu, 13 September 2020

Bahagiamu Terletak Pada Rasa Syukurmu

 Definisi kebahagiaan itu relatif, akan berbeda pada setiap orang. Yang pasti definisi bahagia itu bukanlah"popularitas". Sebab jika kebahagiaan itu terletak pada popularitas, tidaklah mungkin seorang marlyn monroe aktris terkenal dunia akan mati karena overdosis. Kebahagiaan bukan pula terletak pada "harta". Sebab banyak pula orang dengan harta berlimpah namun rela mengakhiri hidupnya karena depresi.


Ada orang yang hanya mampu membeli beras dan lauk seadanya, namun dia makan dengan begitu lahap dan bahagia. Banyak orang yang tidur beralaskan tanah, namun tidurnya sangat lelap, dan dia bangun dengan perasaan bahagia.

Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan dan menyaksikan kebahagiaan orang lain yang belum tentu kebenarannya, sehingga kita lupa menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Si anu enak yah hidupnya,bisa beli ini, beli itu. Si itu enak yah, bisa kesana kesini pake mobil mewah,adem,nyaman, dll. Kita lupa bahwa dunia ini hanya perhiasan yang fana.

Bahagia itu terletak dari seberapa mampu kita untuk mensyukuri segala yang Tuhan berikan. Ketika diberi cobaan,kita bersyukur,maka kita akan merasa bahagia. Sebab ketika kita menginginkan lebih dari yang telah diberikan, yakinlah kita tidak akan pernah merasa bahagia. 

Minggu, 06 September 2020

Perkataanmu adalah Doamu

 


Dalam kehidupan kita, tentunya kita akan mengeluarkan ratusan atau bahkan ribuan kata setiap hari. Hal ini tidak dapat kita hindari, sebab kata yang kita keluarkan adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. kita sering mendengarkan kalimat yang berbunyi “perkataan adalah Doa”. Bahkan mungkin kita sering mengucapkannya pada saat kita sedang berbicara dengan teman, sahabat, ataupun keluaga. Hal ini sejalan pula dengan  sebuah hadist yang berbunyi “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”( HR.Bukhari dan Muslim).

Kita dianjurkan untuk berkata yang baik saja, sebab boleh jadi apa yang kita katakan akan menjadi doa bagi diri sendiri ataupun orang lain. Saya teringat dengan pengalaman beberapa tahun silam. Saat saya masih melanjutkan studi Magister di kota Makassar. Seorang teman bertanya, “jika selesai kuliah, kamu akan kerja dimana?” tanpa pikir panjang saya menjawab “ saya akan kembali mengabdi di kampung halaman saya”. Padahal saat itu, saya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali bekerja di tanah kelahiran saya. Dan benar saja, Allah mengijabah apa yang saya katakan waktu itu. Saya ditakdirkan kembali mengabdi untuk tanah kelahiran saya tercinta.

Namun terkadang kita lupa, bahwa perkataan adalah doa. kata- kata yang kita keluarkan, tidak semuanya perkataan yang baik. Apa lagi pada saat marah, seringkali kita mengeluarkan kata- kata yang tidak sepantasnya kita ucapkan. Perkataan itu mungkin keluar begitu saja tanpa kita sadari. Lalu dikemudian hari,  suatu hal tiba- tiba terjadi pada kehidupan kita. Dan hal tersebut persis dengan ucapan kita pada saat marah. Yah, karena perkataan adalah doa.

tentunya sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari salah dan khilaf, berkata yang baik saja bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hal ini akan menjadi self reminder buat saya pribadi yang terkadang masih sulit untuk mengontrol setiap produksi kata- kata yang  keluar dari mulut ini.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

”Seseorang mati karena tersandung lidahnya

Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya

Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya

Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”


Selasa, 11 Agustus 2020

"Me Time", bentuk penghargaan kepada diri sendiri

 


Istilah me time tentu tidak asing lagi di telinga kita. Me time yang diartikan sebagai waktu pribadi adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap diri kita sendiri. Selain harus menjaga hubungan baik dengan manusia lain, kita juga harus menjaga hubungan baik dengan tubuh sendiri. Setiap idividu memiliki pandangan  yang berbeda dalam hal “me time” ini. Ada yang menghabiskan me time dengan melakukan traveling ke berbagai tempat seorang diri, ada yang menghabiskan me time dengan nonton film di bioskop, ada yang lebih senang berdiam di kamar sambil membaca buku, menulis diary, atau sekedar mendengarkan music,dll. Saya pribadi lebih senang menghabiskan me time dengan berbenah rumah, nonton TV, membaca buku, yang jelas tidak keluar rumah.

Mengapa me time itu penting dilakukan? Marianne Legato seorang kardiolog dan penulis buku berpendapat bahwa , Jika kita kekurangan waktu untuk diri sendiri, kita tidak akan memiliki kendali terhadap hidup kita,  . Manusia biasa pasti sering mengalami titik jenuh dengan rutinitas sehari- hari yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Banyaknya pekerjaan kantor yang hampir tidak pernah ada selesainya, belum lagi jika ada masalah lain yang membelit, terkadang membuat kita merasa stress sampai depresi. Menurut data  WHO, depresi adalah gangguan mental umum yang mempengaruhi lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia.hal  Ini ditandai dengan kesedihan yang terus-menerus dan kurangnya minat atau kesenangan dalam kegiatan yang sebelumnya bermanfaat atau menyenangkan.

Kita perlu melakukan refresh untuk memulihkan kembali tenaga, hati, dan  pikiran agar kembali segar melakukan rutinitas sehari- hari. maka jangan heran jika banyak orang yang rela mengeluarkan biaya besar untuk melakukan traveling ke luar negeri untuk menikmati me time. Memaksakan sesuatu pekerjaan untuk dilakukan saat kondisi pikiran sudah jenuh, tidak akan menghasilkan apapun. Seperti gelas yang telah terisi penuh, jika terus diisi dengan air maka airnya akan tumpah. Jadi sebaiknya, kosongkan gelasnya terlebih dahulu, kemudian diisi kembali dengan air.

Memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk  Me time bukan berarti menampakkan keegoisan. Sebab tubuh tempat bersemayamnya roh yang dianugerahkan oleh Allah SWT, juga wajib untuk dijaga kesehatannya. Jiwa dan raga kita adalah kendaraan yang kita gunakan di muka bumi untuk melakukan aktivitas sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Jika tidak dijaga dengan baik sama artinya kita tidak menjaga amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita.  seperti sabda Rasulullah  SAW ,"Sungguh, badanmu memiliki hak atas dirimu. ” (HR. Muslim). Adapun yang termasuk dalam hak badan yaitu, memberikan makanan pada saat lapar, memberikan minuman pada saat haus, membersihkan diri pada saat kotor, mengobati pada saat sakit, dan memberikan istirahat pada saat lelah.


Minggu, 26 Juli 2020

Semiotika Komunikasi : Alam Adalah Kitab Yang Terbentang




Allah SWT menurunkan kitab Al-Qur'an melalui perantara Rasulullah sebagai petunjuk bagi umat manusia di muka bumi. Alquran begitu kompleks memuat tentang ajaran- ajaran kehidupan, proses penciptaan langit dan bumi, penciptaan jin dan manusia, kisah para Nabi ratusan juta tahun yang lalu, ilmu pengetahuan, dan segalanya terdapat dalam Alquran. Kita semua sebenarnya sadar akan hal itu. Namun terkadang kesibukan menjadi kambing hitam sehingga kita lalai dalam membaca dan mentadabburi pesan- pesan cinta Allah yang terdapat dalam Al-Qur'an. Astagfirullah…

Alam raya diciptakan Allah SWT sebagai tempat tinggal manusia dan seluruh mahluk ciptaannya. Namun pernahkah kita menyadari bahwa alam raya juga merupakan kitab yang dibentangkan Allah agar manusia mengambil pelajaran dan hikmah dari segala peristiwa yang terjadi? Saya mengambil contoh kasus seperti ini, dipagi hari ketika Ahmad akan berangkat ke kantor tiba- tiba Ahmad tersandung batu kecil di depan rumah. Ahmad  menggerutu, “ahh… kenapa harus terjatuh sih? “Padahal dia sedang buru- buru karena takut akan telat tiba di kantor. Bukan hanya menggerutu, Ahmad bahkan tidak sadar mengumpat ke batu kecil tadi. Akhirnya Ahmadpun berngkat ke kantor dengan perasaan yang gusar, campur aduk antara sakit karena jatuh dan takut terlambat. Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad melihat orang ramai di tengah jalan, diapun kembali  menggerutu, “aduhh… tambah telat deh”. ahmadpun akhirnya turun dari kendaraan dan menghampiri keramaian orang. Ternyata telah terjadi sebuah kecalakaan sekitar 5 menit yang lalu. Barulah si Ahmad sadar bahwa, 5 menit yang lalu dia sedang tersandung batu kecil dan telah diselamatkan oleh Allah dari kecelakaan yang  besar .

Lain si Ahmad, lain pula dengan si Ani.  Ani sedang merasakan hatinya berbunga- bunga karena baru saja dilamar oleh sang pujaan hati setelah pendekatan 6 bulan dan akhirnya Ta’aruf  9 tahun. Persiapan pernikahanpun dilakukan, mulai dari memesan gedung pernikahan, catering, dekorasi, cetak undangan, foto prewed, sampai memesan tiket bulan madu ke Eropa. Begitu matang dan indah rencana pernikahan mereka. Namun satu minggu sebelum hari H, sang calon mempelai pria tiba- tiba ingin membatalkan acara  pernikahan mereka tanpa alasan yang jelas. Hancurlah hati si Ani dan keluarganya menanggung malu yang teramat sangat. Si Ani frustrasi sampai tidak berani keluar rumah karena merasa malu. Singkat cerita, datanglah seorang pria yang belum lama dikenal dan memiliki niat untuk meminang si Ani. Setelah istikharah, tanpa pikir panjang lamaran diterima dan akhirnya merekapun menikah. 2 bulan setelah pernikahan mereka, Ani mendapat kabar bahwa mantan calon suaminya yang dulu ditangkap polisi karena terjerat kasus narkoba. Ternyata begitulah cara Allah menyelamatkan Ani dari hal yang buruk. seindah- indahnya rencana manusia, rencana Allah pasti jauh lebih indah.

Tentunya dalam kehidupan ini, kita sering atau bahkan pernah mengalami kejadian- kejadian serupa. Ditipu teman, uang dibawa kabur oleh orang yang kita percayai, dan masih banyak lagi hal- hal tidak menyenangkan yang kita lalui. Sesaat kita jengkel, marah, menangis semalam, dan melakukan hal- hal untuk meluapkan kemarahan, tanpa kita sadari bahwa begitulah cara Allah mencintai kita.  Allah ingin kita belajar  semiotika komunikasi dari tanda- tanda alam yang diberikan. Bukankah  kita meyakini bahwa tidak ada satu daunpun yang jatuh tanpa kehendak Allah? Artinya kita meyakini bahwa, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, yang terjadi terhadap kehidupan kita, adalah kehendak dari Allah sang pemilik kehidupan.  Kita tidak suka jika ada teman yang menipu, Allah  ingin kita belajar untuk tidak melakukan hal itu kepada orang lain. Banyak bencana alam yang terjadi, namun kita sebagai manusia masih kurang peka dengan tanda yang diberikan Allah kepada kita. manusia masih sering menebang pohon, membuang sampah sembarangan, sehingga bencana banjir dan tanah longsor  masih sering terjadi.  Setiap hari kita mendengar dan menyaksikan berita kematian. Allah ingin kita sadar, bahwa suatu saat nanti kita akan melewati proses yang sama. Semoga kita lebih bijak lagi dan lebih bisa memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita kedepannya.

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengutip sebuah kalimat indah dari Wahyu Sujani,

“Langit adalah kitab yang terbentang…
Bumi adalah kitab yang terhampar…
Manusia adalah kitab yang berjalan…
Sedangkan Al-Qur’ an adalah cahaya di dalam kegelapan…”


Senin, 20 Juli 2020

PUBLIC SPEAKING (The Power to Gain Public Attention) Part 2

Tulisan kali ini akan membahas lebih detail tentang cara- cara atau kiat- kiat yang dapat dilakukan untuk menjadi the great Public Speaker. Tapi saya perlu meluruskan terlebih dahulu bahwa saya juga masih terus belajar untuk menjadi seorang public speaker yang baik. Intinya mari kita belajar bersama. Teknik pertama yang perlu dipelajari adalah teknik olah vokal. Why? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa, modal utama seorang public speaker adalah suara. Lalu teknik vokal yang seperti apa? Apakah seperti penyanyi? Yah boleh dikatakan tidak jauh berbeda. Tetapi tidak seribet teknik olah vokal seorang penyanyi. Sebenarnya tujuan utama seorang public speaker melakukan olah vokal adalah, agar produksi suara yang keluar terdengar lebih bulat, dalam artian tidak cempreng. Tentunya tipe- tipe suara tiap orang akan berbeda beda. Ada yang nyaring, ada yang sumbang, ada yang bulat, ada yang cempreng.  Maka bersyukurlah orang – orang yang diberikan anugerah berupa suara yang indah dari lahir. Artinya, modal utamanya sudah ada, tinggal dipoles sedikit agar produksi suara terdengar lebih bulat. Lantas bagaimana dengan suara cempreng? Tentunya itu bukan akhir dari segalanya. Sebab dengan teknik olah vokal yang konsisten dan keinginan luhur, maka suara yang cempreng dapat berubah menjadi suara yang bulat. olah vokal juga bertujuan untuk melatih artikulasi agar apa yang disampaikan  terdengar lebih jelas. berbagai macam teknik olah vokal dapat anda lakukan sendiri di rumah, tentunya dengan bantuan paman Youtube.

Teknik kedua yang juga tidak kalah penting untuk dipelajari adalah gesture atau bahasa tubuh. Pada saat kita berbicara di depan umum, anggota tubuh khususnya tangan akan bergerak  tanpa disadari. Karena grogi, biasanya tangan kita akan menggaruk- garuk bagian tubuh lain meskipun tidak gatal.  Meski hal tersebut kadang terjadi diluar kontrol, namun bukan berarti hal tersebut tidak dapat dikendalikan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol gerakan tangan saat kita berbicara,  misalnya  memegang sebuah kertas atau catatan. Jika anda perhatikan news ancor di sebuah program televisi, kebanyakan dari mereka memegang catatan kecil ketika mereka berdiri, dan ketika mereka duduk, tangan mereka akan memegang sebuah mouse atau remote control. Salah satu fungsi dari benda- benda tersebut yaitu untuk mengontrol gerakan tangan. Jika kita memperhatikan pak Mario teguh di sebuah program acara televisi, cara dia berbicara sambil berjalan di atas panggung, kemudian sesekali membungkuk saat berinteraksi dengan penonton, bertepuk tangan, dan lain sebagainya, tentunya kita melihat sebuah penampilan yang dinamis, dimana ada sinkronisasi antara bibir dengan anggota tubuh yang lain sehingga menarik untuk disaksikan.

Teknik selanjutnya adalah eye contact. Kontak mata sangat menentukan seberapa yakin orang lain dengan apa yang kita sampaikan. Ada pepatah yang mengatakan, bibir bisa saja berbohong tapi mata tidak bisa berbohong.  Ketika seseorang yakin dengan apa yang dia sampaikan, maka matanya akan terlihat berbinar- binar penuh keyakinan. Sebaliknya,ketika dia tidak yakin, maka  sorot matanya akan meredup. saya pernah mendapatkan ilmu jitu tentang pandangan mata dari seorang dosen di bangku kuliah. Beliau mengatakan seperti ini,” ketika kalian ingin meyakinkan dan menundukkan orang lain dengan apa yang kalian sampaikan, jangan menatap matanya. Tapi tataplah di atas keningnya”.  Saya tidak pernah melupakan kalimat itu dan seringkali saya praktekkan.  Jika anda penasaran dengan hasilnya, silahkan anda praktekkan sendiri.

Berbicara tentang mimik wajah, tentunya audience akan lebih menyukai seorang public speaker yang murah senyum dibandingkan yang mahal senyum. Namun bukan berarti kita harus tersenyum tanpa henti   disepanjang penampilan. Orang akan mengira kita mengalami gangguan jiwa  jika senyum tanpa alasan. Public speaker handal akan tahu kapan waktunya tersenyum, kapan waktunya memasang muka serius, kapan harus tertawa, dan kapan harus memasang ekspresi sedih. Istirahat yang cukup sebelum presentasi penting untuk dilakukan agar wajah terlihat fresh saat presentasi.

Love at the first sight, adalah alasan  mengapa penampilan itu penting bagi seorang public speaker. Maka jangan heran, jika seorang public speaker professional  rela menyewa seorang fashion stylish untuk setiap penampilannya di atas panggung.Namun perlu diluruskan bahwa penampilan yang mahal bukanlah definisi dari penampilan yang baik. Mampu memadu padankan atasan dan bawahan sehingga menarik dipandang mata tidak selamanya membutuhkan budget yang besar.

Keterampilan  berbahasa juga harus dimiliki oleh seorang public speaker. Penguasaan beberapa bahasa tentunya menjadi nilai lebih, khususnya  bahasa Inggris. Selain memudahkan berkomunikasi di atas panggung, kemampuan menguasai beberapa bahasa juga dapat menambah rasa percaya diri seorang public Speaker. Keterampilan berbahasa menentukan sampai tidaknya pesan yang ingin disampaikan ke audience. public speaker harus kaya akan kosakata agar tidak kehabisan bahan saat berbicara di depan umum. Hal yang dapat dilakukan agar kita kaya akan kosakata tentunya rajin membaca dan menonton tayangan yang bermanfaat.

Tentunya masih banyak lagi hal yang harus diperhatikan agar seseorang dapat sukses dengan public speaking.  Selain beberapa teknik diatas Melakukan latihan dan persiapan yang  matang sebelum presentasi juga penting untuk dilakukan. Kemudian yang tak kalah penting untuk diingat bahwa,segala sesuatu yang kita lakukan harus dilakukan dengan hati agar hasilnya juga  maksimal. Dan yakinlah bahwa seorang public speaker yang hebat tidak lahir dari satu atau dua kali kegagalan presentasi, tapi ratusan bahkan ribuan kali kegagalan sebelum mencapai puncak kejayaan.

Minggu, 12 Juli 2020

PUBLIC SPEAKING ( The Power to Gain Public Attention)



Tujuan Allah SWT menciptakan manusia yakni untuk  menjadi khalifah di Muka bumi. Seperti yang dijelaskan dalam surah adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Dan Aku (Allah) tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Selanjutnya lebih terperinci dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat 30 yang artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”Lantas, bagaimana seorang manusia bisa menjadi  khalifah yang baik jika tidak memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni?

Berbicara di depan umum atau yang lebih dikenal dengan istilah Public Speaking telah menjadi perhatian banyak ahli, khususnya dibidang komunikasi. Berbagai pelatihan Public Speaking seringkali dilaksanakan dengan tarif yang tergolong tidak murah.  Peserta yang ikutpun memiliki alasan yang berbeda-beda. Ada yang ikut dengan alasan kurang percaya diri ketika berbicara di depan umum, ada yang ingin belajar mempraktekkan teori yang telah mereka dapatkan di bangku kuliah, ada pula yang ikut dengan alasan sekedar untuk memperoleh sertifikat. Buku- buku mengenai Public Speakingpun kerap kita jumpai  ketika kita mengunjungi Gramedia atau toko buku lainnya.

Setiap orang memiliki style masing- masing dalam praktek Public Speakingnya.  Sebagai contoh, Almarhum BJ.habibie yang menunjukkan kecerdasan di setiap pernyataan- pernyataan yang diberikan. Presenter kawakan Najwa Shihab yang identik dengan pertanyaan- pertanyaan jebakannya di setiap sesi talk show yang dia bawakan. Kemudian Ustadz Khalid Basalamah yang terlihat begitu santai membawakan ceramah, namun apa yang disampaikan betul- betul masuk ke hati jamaahnya. Ustadz Das’ad latief, dengan baju koko serba putih dan dialeg bugis sidrap yang begitu kental, Mario teguh yang terkenal  melalui program Golden ways dengan gaya bicara yang kalem, lembut, namun menusuk, dan masih banyak lagi tokoh- tokoh publik di tanah air maupun manca Negara yang memiliki kemampuan Public Speaking yang luar biasa.

Keterampilan Public Speaking sebenarnya tidak ada bedanya dengan keterampilan- keterampilan yang lain. “Ala bisa, karena biasa.” Sebab tidak ada bayi yang baru lahir kemudian langsung mahir berpidato atau berceramah. Semuanya harus melalui sebuah proses yang panjang. Pertama kali kita berbicara di depan umum, tentunya perasaan nervous disertai  keringat dingin dan mules- mules lucu akan senantiasa menyertai. Belum lagi kalimat yang terbata- bata, kelebihan vitamin E, bibir pucat kekurangan darah, dan masih banyak lagi peristiwa- peristiwa tak terduga yang mewarnai  proses belajar kita. Namun ketika ada kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, tentunya akan sangat jauh berbeda. Sebab kita sudah belajar dari pengalaman sebelumnya.

Kesuksesan seseorang dalam Public Speaking tentunya dapat dilihat dari bagaimana antusiasme penonton saat dia berbicara di depan umum. Apakah Audience  mengerti dan memahami apa yang disampaikan? berapa banyak audience yang tertidur pada saat dia berbicara? Jika lebih banyak yang tidur, artinya dia sukses menjadi pendongeng, bukan Public Speaker. Selain itu, ada hal yang perlu kita sadari bahwa, ada beberapa orang tertentu yang dibekali dengan bakat luar biasa yang membuat setiap orang berdecak kagum saat melihatnya. Jangankan ketika berbicara, saat dia bernafaspun itu bisa menjadi pusat perhatian. Itulah yang dinamakan “Kharisma”. 

Tentunya ada Berbagai macam cara yang dapat dilakukan agar seseorang dapat sukses  menjadi seorang Public Speaker. Diantaranya, melakukan teknik olah vokal, mempelajari teknik  gesture atau bahasa tubuh, eye contact, mimik wajah, memperhatikan penampilan, dan mengasah keterampilan bahasa.  Adapun penjelasan mengenai teknik-teknik di atas, in syaa Allah akan saya paparkan di tulisan berikutnya. Ohya, ini juga bisa menjadi salah satu trik seorang Public Speaker, membuat orang penasaran, bagi yang penasaran…


Minggu, 05 Juli 2020

“New (Up)Normal” versi Indonesia



Kali ini saya tertarik untuk menulis tentang tema New Normal atau Kenormalan Baru. Hal ini terinspirasi dari beberapa kejadian viral di dunia maya yang menghebohkan sepekan terakhir ini. Salah satunya foto masyarakat yang sedang antri panjang untuk mendapat kesempatan berolahraga di GBK. Pertama kali melihat foto tersebut, perasaan saya campur aduk dan dipikiran saya muncul banyak sekali pertanyaan. Kira- kira apa harapan mereka sampai rela antri panjang bagaikan ular demi berolahraga di GBK? Apakah ada doorprize mobil mewah atau jaminan masuk surga gratis? Masa iya tidak ada tempat lain? Bukankah olahraga bisa dimana saja? di kompleks perumahan atau bahkan di dalam rumah sekalipun, sangat bisa.  Ahh… mungkin mereka hanya butuh piknik. Itu pikiran pendek saya saat itu.

 

Belum terjawab rasa penasaran saya, beberapa hari kemudian kembali muncul fenomena tiga orang ibu-ibu berbaju kuning dan sepatu kuning bertiktok ria di jembatan suramadu. Mereka menari  dengan gemulai. Mengingatkan saya pada group kasidah rebanah Tujuh belasan.  Aduh ibu, kenapa menari  di jembatan sih? Kalau jatuh bisa ngambang loh. Pakai baju kuning pula.

 

Alhamdulillah, pagi ini saya mendapatkan jawabannya saat menyaksikan tayangan berita CNN di televisi. Menurut seorang sosiolog Universitas Indonesia, saat ini masyarakat mengalami “Cabin Fever”. Ini adalah sebuah kondisi dimana seseorang harus mengisolasi diri dalam waktu lama dengan berbagai permasalahan internal dan eksternal.  Contoh faktor internal diantaranya ketidak harmonisan keluarga, atau tidak ada fasilitas yang menunjang kegiatan di rumah. Sedangkan faktor eksternal Misalnya ketidak puasan dengan kebijakan yang ada, atau faktor budaya yang melatar belakangi. Mengingat kebiasaan masyarakat Indonesia yang senang berkumpul dan berkerumun.  Menurut PR Manager GBK, masyarakat yang datang ke GBK dan betul-betul berolahraga hanya 40 persen. Sedangkan yang 60 persen lebih ke piknik dan berswafoto.

 

Dari fenomena tersebut, tentunya kita dapat mengambil banyak pelajaran. Istilah “ manusia adalah mahluk sosial” bukan hanya sekedar istilah, melainkan sebuah fakta yang terpampang nyata. Manusia tidak bisa hidup tanpa bersosialisasi dengan orang lain seintrovert apapun pribadinya. Hewan yang tidak dibekali dengan akal pikiranpun jika dikurung akan mengalami stres, apalagi manusia yang dibekali dengan akal, pikiran, dan perasaan yang sering Baper. Baru juga menjadi tahanan rumah selama 3 bulan sudah stress, bagaimana jika 3 tahun?

 

Kenormalan Baru atau lebih dikenal dengan istilah New Normal  adalah, kondisi yang terjadi sebagai upaya kesiapan untuk melakukan aktivitas di luar rumah secara optimal pascapandemi berlangsung. masyarakat dituntut untuk kooperatif dengan aturan yang ada  agar dapat beradaptasi dengan perilaku yang baru. Pandemi belum sepenuhnya berakhir, namun kehidupan harus terus berlanjut. New Normal adalah upaya yang kita lakukan sebagai bentuk pemutusan mata rantai COVID-19 dan upaya untuk melanjutkan hidup yang lebih baik. Tentunya semua pihak harus bersinergi agar dapat melewati semua musibah ini. New normal bukan berarti kita dapat dengan bebas melakukan aktivitas di luar rumah seperti dahulu kala. Aktivitas dari rumah masih lebih diutamakan sampai kondisi betul- betul kondusif atau vaksin telah ditemukan.  Oleh karena itu, mari tetap bijak menyikapi segala kebijakan pemerintah. Tetap jaga kesehatan fisik maupun mental, agar kita tetap menjadi manusia yang Normal di Era New Normal.


Sabtu, 27 Juni 2020

Social Media is a Social Virus


Saat ini Siapa yang tak kenal dengan media sosial. Mulai dari yang tua sampai yang muda sangat menggandrungi “mainan” ini. Orang- orang bahkan rela duduk berjam- jam di depan laptop atau berbaring sambil memandangi Handphone demi media sosial. Saya sangat tertatrik jika mengkaji hal- hal tentang media sosial. Sebab produk new media yang satu ini tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Media sosial merupakan hasil dari konvergensi media atau penggabungan media. Yakni media lama dan media baru atau dikenal dengan istilah New Media.

Media sosial adalah sarana/ Media yang digunakan orang- orang untuk terhubung dengan orang- orang yang ada di sekitarnya. Atau dengan kata lain sarana yang digunakan untuk bersosialisasi. Media sosial sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Tahun 1978 orang- orang menggunakan papan buletin sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Namun tentunya dengan jangkauan yang terbatas, sebab hanya dapat ilihat oleh orang- orang dengan jarak yang dekat saja. 

Seiring dengan perkembangan zaman, media sosial kini berevolusi dan menghasilkan banyak produk yakni, website, blog, konten, situs jejaring sosial, virtual game world, dan virtual social world. Namun, banyak kesalah pahaman yang terjadi dimasyarakat saat ini. Kebanyakan menganggap bahwa media sosial hanya terbatas pada aplikasi facebook, twitter, Whatsapp, dan aplikasi- aplikasi lain yang sedang tren saat ini. Padahal aplikasi- aplikasi tersebut termasuk dalam situs jejaring sosial yang menjadi sub bagian dari media sosial.

Fenomena masyarakat saat ini sangat rentan terpapar virus media sosial, khususnya jejaring sosial.  Hal ini tentunya menjadi lahan empuk bagi pembuat aplikasi jejaring sosial untuk terus berinovasi dan berlomba- lomba menyediakan fitur- fitur yang lebih menarik.  Jika dahulu orang- orang hanya dapat mengakses friendstrer dengan mendatangi  warnet, maka saat ini orang-orang dapat mengakses Instagram atau facebook melalui smartphone sambil  bersantai  di rumah.  Provider- providerpun turut berlomba mempromosikan kuota murah unlimited.

Seperti halnya media massa pada umumnya, Media sosial juga memiliki beberapa fungsi diantaranya fungsi informatif, fungsi edukatif, fungsi persuasif, dan fungsi menghibur.  Dikatakan informatif  karena media sosial digunakan untuk saling bertukar informasi yang bermanfaat. Media sosial juga kerap digunakan sebagai sarana edukasi bagi semua kalangan, baik pelajar maupun mahasiswa. Kemampuan media sosial untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain tentunya tidak diragukan lagi. Selanjutnya fungsi hiburan yang banyak diklaim oleh masyarakat namun juga sering disalah artikan.

Saat ini tidak jarang kita jumpai orang-orang  mengupdate status WA atau Istastory bagaikan diary. Gerak dikit upload, balik kanan upload, hadap kiri upload. Tidak mengenal batasan usia, anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun, rata- rata memiliki perilaku dalam menggunakan jejaring sosial yang sama. Jika melihat dari kacamata media sosial sebagai fungsi hiburan, maka tidak ada yang salah dari fenomena itu. Sebab bisa saja orang- orang mengatasi kejenuhan mereka dengan update status,foto, atau video  di media sosial, dan saling beromentar. Yang menjadi persoalan kemudian adalah, ada sebagian orang yang tidak siap mental untuk menghadapi terpaan postingan orang- orang tentang kehidupannya di media sosial.

Namanya saja jejaring sosial, dunia maya. Tentunya tidak semua yang kita saksikan itu betul adanya. Sebab ada dua  tipe pengguna media sosial, khususnya jejaring sosial. Ada  tipe apa adanya, dan ada tipe yang ada apanya. Tipe apa adanya adalah tipe dimana kehidupan dunia mayanya sama dengan kehidupannya di dunia nyata. Sedangkan tipe yang ada apanya adalah, tipe dimana kehidupan dunia mayanya jauh berbeda dari kehidupan dunia nyatanya. Oleh karena itu, tidak seharusnya status- status atau postingan orang lain di media sosial dijadikan sebagai pembanding kehidupan yang kita jalani. Sebab jika kita merasa iri,dengki bahkan gila melihat postingan orang lain, maka kesalahan tidak terletak pada orang yang memposting. Tapi salah kita yang terpengaruh dengan postingan orang lain yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan hidup yang kita jalani.

Jadi, mari kita kembali pada istilah Smartphone for Smart People. Orang lain bisa melakukan apa saja dengan gadget yang mereka miliki. tugas kita bukan menjudge atau ikut-ikutan dengan hal yang tidak sesuai dengan kepribadian kita. Semoga kita tetap istiqomah menjalankan kehidupan normal di dunia nyata maupun dunia maya, agar dunia kita tetap diridhoi oleh-Nya.

Minggu, 21 Juni 2020

Doa Adalah Bentuk Komunikasi Terbaik di Muka Bumi


Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas tentang definisi komunikasi. Dimana komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator( pemberi pesan)  kepada komunikan( penerima pesan). Komunikasi dikatakan efektif apabila, pesan yang disampaikan oleh komunikator, dapat diterima dan dipahami oleh komunikan.  Apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak dapat dimengerti oleh komunikan, maka komunikasi dinyatakan tidak efektif atau lebih dikenal dengan istilah miskomunikasi.

Ada beberapa bentuk komunikasi yang disepakati oleh para ahli. Yakni, komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Komunikasi intrapersonal adalah proses penyampaian pesan yang terjadi dengan diri  sendiri. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang dan bersifat pribadi. Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara dua orang atau lebih, sedangkan komunikasi massa adalah proses komunikasi yang menggunakan media massa sebagai srana komunikasi.

Selain bentuk komunikasi, terdapat pula pola komunikasi yang meliputi komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, dan komunikasi sirkular. Dimana komunikasi verbal menggunakan bahasa lisan sebagai alat komunikasi , komunikasi nonverbal menggunakan bahasa isyarat atau simbol. Sedangkan pola komunikasi sirkular terjadi ketika terjadi umpan balik antara komunikator dan komunikan saat berkomunikasi.

Saat berkomunikasi dengan manusia, tentunya kita harus memilih bentuk dan pola komunikasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu. Selain itu, kita juga harus memperhatikan jelas atau tidaknya pesan yang disampaikan agar betul- betul dapat dimengerti oleh si penerima pesan.  Namun, pernahkah kita sadari bahwa ada bentuk komunikasi yang tidak begitu membutuhkan pola yang tepat dalam pelaksanaannya. Yah… DOA.

Doa adalah bentuk komunikasi tertinggi yang dimiliki manusia. Doa adalah media komunikasi yang menghubungkan kita dengan Sang Pemilik alam raya. Setiap masalah yang dihadapi oleh manusia dapat dikomunikasikan dengan Doa. Doa tidak mengenal bentuk pola. Setiap manusia diperkenankan berdoa dengan bahasa yang dimengerti. Verbal ataupun nonverbal, bahkan ketika manusia tidak mampu lagi  berkata- kata dan hanya mampu  bergumam dalam hati, doa akan tetap sampai dan dipahami oleh  Sang pemilik Doa, Allah Azza Wajalla. Seperti Firman-Nya dalam surah  Al- Mu’min:60, “Berdoalah Kepadaku, Niscaya akan Aku Kabulkan”.

Sampai saat ini saya baru menyadari, bahwa tidak ada komunikasi terbaik di muka bumi yang melebihi Doa. Doa juga menggambarkan bagaimana manusia sangat membutuhkan Allah SWT dalam setiap sisi kehidupan. Doa menjadikan kita sadar, bahwa manusia adalah mahluk yang lemah, dan tidak ada daya upaya melainkan pertolongan dari Allah.

Dalam Al Quran surat Al Araf ayat 55-56, "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan suara lembut, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah)memperbaikinya; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan harapan (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (orang-orang yang berbuat baik)." Dalam Doa kita telah diajarkan adab- adab berkomunikasi yang baik, yakni dengan suara yang lembut, tiak terlalu keras. Bukankah dalam komunikasi antarmanusia kita juga seharusnya menerapkan adab itu? Sebab suara yang keras dapat membuat orang lain merasa kesal, atau bahkan tersinggung yang kerap kali berakhir pada pertikaian.

Kehidupan dunia tidaklah mudah. Makanya Allah membekali kita dengan media Doa untuk menceritakan segala keluh kesah. Sebab meski manusia sudah tidak memiliki harta bahkan sebutir beraspun manusia masih memiliki Doa yang bisa dia panjatkan  dengan tulus kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dan yakinlah, bahwa Allah tidak pernah bosan mendengar setiap rintihan Doa yang kita panjatkan.

Aisyah Rusnali

Selasa, 16 Juni 2020

RAMAI-RAMAI PAMER TOGA, RAMAI KOMENTAR WARGA



Sejatinya momen wisuda adalah salah satu momen yang paling dinanti bagi semua mahasiswa. Perjuangan menempuh pendidikan selama kurang lebih 4 tahun di bangku kuliah, akhirnya menemukan ujungnya. Pada kenyataannya momen wisuda hanyalah penantian pemindahan tali toga dalam hitungan menit. Namun, proses dibalik peristiwa itu adalah sebuah perjuangan panjang yang melelahkan.

Persiapan wisuda bagai persiapan pernikahan. Baju seragam wisuda yang telah disiapkan sebulan sebelum hari H, catering untuk syukuran, bangun subuh untuk makeup bagi kaum wanita, dan persiapan lain untuk menempuh hidup baru pascawisuda. Bahkan bagi sebagian masyarakat, prosesi  wisuda adalah ritual sakral yang tidak boleh dilewatkan. Maka tidak heran jika parkiran penuh pada saat penyelenggaraan wisuda, sebab dibalik 1 orang wisudawan terdapat 1 kompi keluarga yang turut serta. Bisa dibayangkan bagaimana  jika wisudawan jumlahnya ratusan atau ribuan.

Wisuda juga bagaikan tradisi piknik. Banyak yang mempersiapkan bekal makanan dari rumah. Buras, ayam, sokko, peco', bajabu', dll. Bahkan saya pernah menyaksikan ritual "baca-baca" yang dilakukan oleh keluarga wisudawan di area kampus pada saat wisuda. Dimana ritual "baca-baca" biasanya dilakukan oleh orang bugis untuk acara- acara penting. Seperti masuk rumah baru, setelah panen, memasuki bulan Ramadhan, pernikahan, dan acara-acara sakral lainnya.

Hampir seluruh alumni 2020 tidak dapat melaksanakan prosesi wisuda karena pandemi COVID-19. meskipun ada yang melaksanakan wisuda secara online, namun tentulah euforianya akan sangat jauh berbeda ketika wisuda dilaksanakan dalam sebuah gedung mewah dengan iringan lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas. 

Baru-baru ini warga net dihebohkan dengan fenomena baru. Foto- foto wisuda dari puluhan tahun yang lalu tiba-tiba ramai berseliweran di jagad maya. Foto dengan hashtag wisudaLDR tersebut, konon diperuntukkan untuk menghibur teman-teman alumni 2020 yang tidak dapat mengikuti wisuda karena COVID-19. Saya pertama kali melihat challenge upload foto wisuda tersebut di akun Instagram  Presenter kenamaan tanah air, Najwa Shihab. sekilas saya hampir tergoda untuk mengikuti challenge tersebut. Beruntungnya saya tidak menemukan file foto wisuda di laptop. kemudian saya berpikir, kok agak aneh yah? Benarkah unggahan tersebut betul- betul tepat sasaran? Benarkah menghibur?

keesokan harinya ramailah warga net berkomentar tentang challenge tersebut. Pro kontra pasti terjadi. ada yang mendukung, tak sedikit pula yang menghujat. saya mencoba menganalisa seperti ini, kira- kira jika saya berada di posisi adik- adik 2020 yang tidak dapat melaksanakan wisuda kemudian saya melihat orang-orang memamerkan foto wisudanya, perasaan saya bagaimana yah? jujur bukan hiburan yang saya dapatkan. Tapi sedih yang semakin mendalam. Ibaratnya kita menginginkan sebuah barang tapi uang kita tidak cukup untuk membelinya. kemudian kita melihat teman kita memamerkan foto dengan barang yang kita inginkan. rasanya sakit, tapi tidak berdarah. mungkin seperti itu. Tetapi kembali lagi, tidak ada yang dapat memahami maksud orang lain lebih baik dari Tuhan dan dirinya  sendiri. 

fenomena tersebut kembali membuktikan bagaimana kekuatan media dapat mempengaruhi pikiran dan mengubah perilaku manusia. Teori jarum hipodermik yang dipopulerkan oleh Harold Lasswell 100 tahun yang lalu kini benar adanya. Menurut teori jarum hipodermik, pesan digambarkan seperti sebuah peluru ajaib yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Teori ini juga menjelaskan bagaimana media mengontrol apa yang khalayak lihat dan apa yang khalayak dengar. Menurut teori ini, efek media terhadap khalayak massa bersifat langsung atau tertunda di masa depan

Sejatinya media massa diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menyebarkan informasi bermanfaat kepada orang banyak. Namun kebanyakan manusia saat ini menggunakan media massa khusunya media sosial sebagai sarana mengekspresikan diri untuk sekedar memperoleh ketenaran tanpa menimbang manfaatnya. Oleh karena itu, setiap pengguna media massa harus pandai memilih  apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengarkan, sebab filter terbaik bagi efek media adalah diri kita sendiri. Gunakan kedua tangan sebagai  penutup mata dan telinga untuk hal- hal yang tidak perlu kita lihat dan tidak perlu kita dengar. Gunakan pikiran untuk mencerna jika terlanjur melihat dan mendengar sesuatu yang tidak perlu itu, gunakan hati nurani yang bersumber dari keimanan untuk menetralisir semua pengaruh buruk media, In Syaa Allah kita kan menjadi manusia yang kebal terhadap terpaan buruk media apapun. jamaahhhh...ohh...jamaah....Alhamdulillah.


Aisyah Rusnali

Sabtu, 06 Juni 2020

KRISIS PERCAYA DIRI PENYEBAB KRISIS KOMUNIKASI

Istilah krisis tentunya tidak asing lagi di telinga kita. Tahun 1998 saat peralihan dari masa Orde Baru ke masa Reformasi, krisis ekonomi dan moneter atau biasa disingkat krismon hampir tiap hari kita dengarkan dipemberitaan.  saat ini istilah krisis pasca pandemi COVID-19 mencuat kembali. Hampir semua Negara terdampak pandemic COVID-19, mengalami krisis ekonomi. Namun kali ini, saya tidak akan membahas tentang krisis ekonomi. Saya hanya berusaha mengantarkan anda mengingat kembali  kondisi krisis seperti apa.

Krisis diartikan sebagai kondisi yang berbahaya, keadaan yang genting, keadaan yang suram (KBBI). Pernahkah kita berada pada situasi dimana kita merasa tidak nyaman dengan pakaian yang kita pakai? Atau pada saat ujian, kita merasa gelisah karena tidak belajar. Terkadang kita juga merasa malu untuk berbicara di hadapan orang banyak, intinya kita merasa kurang percaya diri dalam suatu keadaan. Kita sering menganggap sepele hal- hal tersebut. Padahal tanpa kita sadari, kita sedang mengalami krisis percaya diri pada saat itu.

Banyak orang yang mengatakan dirinya pemalu, sehingga dia tidak berani berbicara di hadapan orang banyak. Hal itu sudah tersetting dalam pikirannya selama bertahun- tahun. Sehingga alasan “pemalu” sering dijadikan kambing hitam terhadap situasi krisis percaya diri yang dialami. Beberapa peneliti mengatakan bahwa sifat pemalu diturunkan dari gen, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.  sifat malu akan berdampak pada rendahnya tingkat kepercayaan diri seseorang. Dan kurangnya rasa percaya diri dapat  menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis komunikasi.

Sebagai contoh, saya biasa memberikan kuis kepada mahasiswa diakhir sesi perkuliahan. Pertanyaannya sederhana, seputar topik yang dibahas pada hari itu. Pada saat saya memberikan pertanyaan, hanya satu atau dua mahasiswa yang mengacungkan tangan dan bersedia menjawab pertanyaan dengan sukarela. Kemudian saya memberikan kesempatan kembali dengan mengatakan “ ada lagi  yang mau menjawab?”. Semua diam, ada yang tunduk, ada  yang pura- pura membaca, ada juga yang seolah- olah berdiskusi. Namun ketika saya menyebutkan beberapa nama dan meminta mereka untuk menjawab, mereka dengan mudah  memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan kuis. Hal ini membuktikan bahwa, sebenarnya mereka tahu dan bisa menjawab. Hanya saja mereka masih kurang PD untuk berbicara di depan umum jika tidak dipaksa. Alasannya macam- macam, takut salah, takut dikatakan sok pintar, malu, dan alasan- alasan klise lainnya.

Adalah hal yang wajar jika manusia memiliki rasa malu. Sebab dalam Islam, malu adalah salah satu sifat yang terpuji. Tapi malu yang dimaksudkan disini adalah, perasaan malu ketika kita berbuat maksiat di hadapan Allah.  Krisis PD dapat diatasi dengan banyak cara. Misalnya, memperbanyak link pertemanan yang berfaedah, menambah referensi bacaan, menonton tayangan yang bermanfaat, dan yang tidak kalah penting rajinlah berlatih agar terbiasa tampil di depan orang banyak. Karena segala sesuatu akan terasa mudah apabila telah terbiasa. Kemudian yakinlah, bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Saat ini muncul spesies manusia jenis baru. Yakni manusia yang malu bertemu langsung dengan manusia lain, tapi sangat hyperaktif di depan lensa kamera.hehe…#justajoke

(Aisyah Rusnali)

Sabtu, 30 Mei 2020

ETIKA KOMUNIKASI TERGERUS MODERNISASI

ETIKA KOMUNIKASI TERGERUS MODERNISASI



Kita sering mendengar istilah “etika” dalam kehidupan sehari- hari. Kita makan, bekerja, berbicara, berjalan, beribadah, semua ada etikanya. Ketika ditanya apa pengertian etika? Dengan gamblang kita menjawab etika adalah aturan.  Namun, menurut Tuan Guru Besar KBBI, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Jadi ketika kita menjawab etika adalah aturan, itu adalah kesimpulan dari pengertian etika menurut KBBI. Segala sesuatu yang berkenaan dengan hal  yang baik atau hal yang buruk kita istilahkan dengan etika atau aturan.

Demikian juga istilah “komunikasi”, tentunya sangat tidak asing lagi ditelinga kita. Mulai saat kita terbangun dipagi hari, kemudian berangkat ke kantor, pulang ke rumah, sampai beristirahat kembali di malam hari, semuanya dipenuhi dengan aktifitas komunikasi. Sebab tidak ada manusia normal yang tidak membutuhkan komunikasi. Saya pernah bertanya  pada mahasiswa tentang definisi komunikasi. Jawaban merekapun bermacam- macam. Ada yang menjawab komunikasi adalah bercakap- cakap. Ada pula yang mengatakan komunikasi adalah ketika saya menelpon orang lain menggunakan handphone. Dan jawaban yang paling mengesankan adalah komunikasi itu adalah aktifitas orang- orang yang bekerja di Telkom. Sebenarnya jawaban mereka tidak ada yang salah, namun kurang ilmiah. Karena pengertian komunikasi yang disepakati oleh para pakar adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ( pemberi pesan) kepada komunikan (penerima pesan).

Lalu, apa pengertian dari “etika komunikasi”? jika melihat penjelasan di atas, maka dapat  kita uraikan bahwa etika komunikasi adalah ilmu yang mengatur tentang hal yang baik dan yang buruk dalam proses pertukaran pesan. Pernahkah kita berpikir bahwa, etika anak- anak Jaman Now sudah sangat jauh berbeda dari etika anak- anak jaman old? Saya merasa bahwa perilaku anak- anak jaman sekarang berbeda dengan perilaku saya waktu masih kanak- kanak. Atau mungkin saya hanya terbawa perasaan.

Namun jika memutar kembali memori saat masih dibangku Sekolah Dasar, saya masih ingat betul bagaimana rasanya kayu rotan jika ada yang berani berbicara saat  Bapak/Ibu Guru sedang menjelaskan. Jika ingin ke kantin, saya dan teman- teman mencari jalan lain asal tidak lewat di depan ruang Guru. Jika sangat mengharuskan melewati ruang Guru, maka kami berjalan sambil membungkuk dengan tangan kanan nyaris menyentuh tanah. Orang bugis mengistilahkan dengan “Mappatabe’”.  Padahal Guru di dalam ruangan tidak ada yang memperhatikan kami, karena mereka sibuk bercakap- cakap. Namun tetap saja ada rasa sungkan yang teramat sangat dalam.

Saat dibangku kuliah, momen menghubungi  Dosen Via Telepon ataupun SMS adalah salah satu momen paling mendebarkan. Untuk sekedar mengingatkan jadwal perkuliahan atau bermaksud meminta tanda tangan KRS, SMS dikonsep dengan metode ketik- hapus agar tidak salah dalam memilih kata- kata yang sopan. Namun saat ini, ketika saya menerima pesan Whatsapp dari mahasiswa, saya mengira itu pesan dari teman kuliah atau teman sesama dosen. Kalimat pesannya kebanyakan bernada curhat, apa lagi jika mereka bermaksud ijin tidak mengikuti kuliah.  

Zaman terus mengalami perubahan. Tentunya segala bidang kehidupan juga turut mengalami perubahan. Tidak terkecuali teknologi informasi yang semakin hari perkembangannya semakin pesat. Generasi muda saat ini tidak lagi kesulitan memperoleh berbagai macam informasi dimanapun dan kapanpun. Akses internet hampir telah menjangkau seluruh bagian terkecil pelosok tanah air. Setiap hari anak- anak remaja mengonsumsi tontonan dan informasi  dari berbagai penjuru dunia. Sehingga tidak mengherankan kerap kita menjumpai anak atau keponakan kita yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah hafal dengan lagu dan tarian Girl Band asal Korea Selatan, Black Pink. Tren Youtuber juga tidak kalah pamor saat ini, tidak heran jika banyak anak usia balita yang tidak lagi bercita- cita menjadi Dokter ataukah Polisi, namun bercita- cita menjadi seorang Youtuber. Kemudian ketika kita berpapasan mereka akan menyapa kita “ halo guys”. Itulah dampak modernisasi yang banyak dikhawatirkan oleh orang tua kita dahulu. Lalu bagaimana dengan etika dan adat ketimuran yang dijunjung tinggi oleh nenek moyang kita sejak dulu kala?

Sejatinya pelajaran etika secara khusus memang tidak kita terima dibangku sekolah. Pesan moral tentang etika kehidupan berbangsa biasanya hanya kita temui dimata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bagaimana kita berjalan dengan baik, bertingkah laku dengan baik, bertutur kata dengan baik, sebagian besar kita dapatkan dari pendidikan nonformal dalam kehidupan sehari- hari. Peran keluarga sebagai tempat kita tumbuh dan berkembang tentunya sangat mempengaruhi perilaku dan adat istiadat kita dalam pergaulan. Tentulah menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua orang tua, khususnya tenaga pendidik. Bagaimana kita dapat menanamkan nilai- nilai yang baik kepada anak kita, siswa, ataupun mahasiswa. Mengingat perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern ini. Tidaklah mungkin bagi kita menarik diri dari pergaulan dan kemajuan teknologi, sebab setiap detik informasi berubah bagaikan denyut jantung. Tidak perlu memilih bagian  mana yang harus diutamakan. Sebab semua dapat berjalan seiring sejalan sehingga kita   mampu menjadi manusia modern yang beretika.

MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

  Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi ...