Sabtu, 27 Juni 2020

Social Media is a Social Virus


Saat ini Siapa yang tak kenal dengan media sosial. Mulai dari yang tua sampai yang muda sangat menggandrungi “mainan” ini. Orang- orang bahkan rela duduk berjam- jam di depan laptop atau berbaring sambil memandangi Handphone demi media sosial. Saya sangat tertatrik jika mengkaji hal- hal tentang media sosial. Sebab produk new media yang satu ini tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Media sosial merupakan hasil dari konvergensi media atau penggabungan media. Yakni media lama dan media baru atau dikenal dengan istilah New Media.

Media sosial adalah sarana/ Media yang digunakan orang- orang untuk terhubung dengan orang- orang yang ada di sekitarnya. Atau dengan kata lain sarana yang digunakan untuk bersosialisasi. Media sosial sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Tahun 1978 orang- orang menggunakan papan buletin sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Namun tentunya dengan jangkauan yang terbatas, sebab hanya dapat ilihat oleh orang- orang dengan jarak yang dekat saja. 

Seiring dengan perkembangan zaman, media sosial kini berevolusi dan menghasilkan banyak produk yakni, website, blog, konten, situs jejaring sosial, virtual game world, dan virtual social world. Namun, banyak kesalah pahaman yang terjadi dimasyarakat saat ini. Kebanyakan menganggap bahwa media sosial hanya terbatas pada aplikasi facebook, twitter, Whatsapp, dan aplikasi- aplikasi lain yang sedang tren saat ini. Padahal aplikasi- aplikasi tersebut termasuk dalam situs jejaring sosial yang menjadi sub bagian dari media sosial.

Fenomena masyarakat saat ini sangat rentan terpapar virus media sosial, khususnya jejaring sosial.  Hal ini tentunya menjadi lahan empuk bagi pembuat aplikasi jejaring sosial untuk terus berinovasi dan berlomba- lomba menyediakan fitur- fitur yang lebih menarik.  Jika dahulu orang- orang hanya dapat mengakses friendstrer dengan mendatangi  warnet, maka saat ini orang-orang dapat mengakses Instagram atau facebook melalui smartphone sambil  bersantai  di rumah.  Provider- providerpun turut berlomba mempromosikan kuota murah unlimited.

Seperti halnya media massa pada umumnya, Media sosial juga memiliki beberapa fungsi diantaranya fungsi informatif, fungsi edukatif, fungsi persuasif, dan fungsi menghibur.  Dikatakan informatif  karena media sosial digunakan untuk saling bertukar informasi yang bermanfaat. Media sosial juga kerap digunakan sebagai sarana edukasi bagi semua kalangan, baik pelajar maupun mahasiswa. Kemampuan media sosial untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain tentunya tidak diragukan lagi. Selanjutnya fungsi hiburan yang banyak diklaim oleh masyarakat namun juga sering disalah artikan.

Saat ini tidak jarang kita jumpai orang-orang  mengupdate status WA atau Istastory bagaikan diary. Gerak dikit upload, balik kanan upload, hadap kiri upload. Tidak mengenal batasan usia, anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun, rata- rata memiliki perilaku dalam menggunakan jejaring sosial yang sama. Jika melihat dari kacamata media sosial sebagai fungsi hiburan, maka tidak ada yang salah dari fenomena itu. Sebab bisa saja orang- orang mengatasi kejenuhan mereka dengan update status,foto, atau video  di media sosial, dan saling beromentar. Yang menjadi persoalan kemudian adalah, ada sebagian orang yang tidak siap mental untuk menghadapi terpaan postingan orang- orang tentang kehidupannya di media sosial.

Namanya saja jejaring sosial, dunia maya. Tentunya tidak semua yang kita saksikan itu betul adanya. Sebab ada dua  tipe pengguna media sosial, khususnya jejaring sosial. Ada  tipe apa adanya, dan ada tipe yang ada apanya. Tipe apa adanya adalah tipe dimana kehidupan dunia mayanya sama dengan kehidupannya di dunia nyata. Sedangkan tipe yang ada apanya adalah, tipe dimana kehidupan dunia mayanya jauh berbeda dari kehidupan dunia nyatanya. Oleh karena itu, tidak seharusnya status- status atau postingan orang lain di media sosial dijadikan sebagai pembanding kehidupan yang kita jalani. Sebab jika kita merasa iri,dengki bahkan gila melihat postingan orang lain, maka kesalahan tidak terletak pada orang yang memposting. Tapi salah kita yang terpengaruh dengan postingan orang lain yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan hidup yang kita jalani.

Jadi, mari kita kembali pada istilah Smartphone for Smart People. Orang lain bisa melakukan apa saja dengan gadget yang mereka miliki. tugas kita bukan menjudge atau ikut-ikutan dengan hal yang tidak sesuai dengan kepribadian kita. Semoga kita tetap istiqomah menjalankan kehidupan normal di dunia nyata maupun dunia maya, agar dunia kita tetap diridhoi oleh-Nya.

Minggu, 21 Juni 2020

Doa Adalah Bentuk Komunikasi Terbaik di Muka Bumi


Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas tentang definisi komunikasi. Dimana komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator( pemberi pesan)  kepada komunikan( penerima pesan). Komunikasi dikatakan efektif apabila, pesan yang disampaikan oleh komunikator, dapat diterima dan dipahami oleh komunikan.  Apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak dapat dimengerti oleh komunikan, maka komunikasi dinyatakan tidak efektif atau lebih dikenal dengan istilah miskomunikasi.

Ada beberapa bentuk komunikasi yang disepakati oleh para ahli. Yakni, komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Komunikasi intrapersonal adalah proses penyampaian pesan yang terjadi dengan diri  sendiri. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang dan bersifat pribadi. Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara dua orang atau lebih, sedangkan komunikasi massa adalah proses komunikasi yang menggunakan media massa sebagai srana komunikasi.

Selain bentuk komunikasi, terdapat pula pola komunikasi yang meliputi komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, dan komunikasi sirkular. Dimana komunikasi verbal menggunakan bahasa lisan sebagai alat komunikasi , komunikasi nonverbal menggunakan bahasa isyarat atau simbol. Sedangkan pola komunikasi sirkular terjadi ketika terjadi umpan balik antara komunikator dan komunikan saat berkomunikasi.

Saat berkomunikasi dengan manusia, tentunya kita harus memilih bentuk dan pola komunikasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu. Selain itu, kita juga harus memperhatikan jelas atau tidaknya pesan yang disampaikan agar betul- betul dapat dimengerti oleh si penerima pesan.  Namun, pernahkah kita sadari bahwa ada bentuk komunikasi yang tidak begitu membutuhkan pola yang tepat dalam pelaksanaannya. Yah… DOA.

Doa adalah bentuk komunikasi tertinggi yang dimiliki manusia. Doa adalah media komunikasi yang menghubungkan kita dengan Sang Pemilik alam raya. Setiap masalah yang dihadapi oleh manusia dapat dikomunikasikan dengan Doa. Doa tidak mengenal bentuk pola. Setiap manusia diperkenankan berdoa dengan bahasa yang dimengerti. Verbal ataupun nonverbal, bahkan ketika manusia tidak mampu lagi  berkata- kata dan hanya mampu  bergumam dalam hati, doa akan tetap sampai dan dipahami oleh  Sang pemilik Doa, Allah Azza Wajalla. Seperti Firman-Nya dalam surah  Al- Mu’min:60, “Berdoalah Kepadaku, Niscaya akan Aku Kabulkan”.

Sampai saat ini saya baru menyadari, bahwa tidak ada komunikasi terbaik di muka bumi yang melebihi Doa. Doa juga menggambarkan bagaimana manusia sangat membutuhkan Allah SWT dalam setiap sisi kehidupan. Doa menjadikan kita sadar, bahwa manusia adalah mahluk yang lemah, dan tidak ada daya upaya melainkan pertolongan dari Allah.

Dalam Al Quran surat Al Araf ayat 55-56, "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan suara lembut, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah)memperbaikinya; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan harapan (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (orang-orang yang berbuat baik)." Dalam Doa kita telah diajarkan adab- adab berkomunikasi yang baik, yakni dengan suara yang lembut, tiak terlalu keras. Bukankah dalam komunikasi antarmanusia kita juga seharusnya menerapkan adab itu? Sebab suara yang keras dapat membuat orang lain merasa kesal, atau bahkan tersinggung yang kerap kali berakhir pada pertikaian.

Kehidupan dunia tidaklah mudah. Makanya Allah membekali kita dengan media Doa untuk menceritakan segala keluh kesah. Sebab meski manusia sudah tidak memiliki harta bahkan sebutir beraspun manusia masih memiliki Doa yang bisa dia panjatkan  dengan tulus kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dan yakinlah, bahwa Allah tidak pernah bosan mendengar setiap rintihan Doa yang kita panjatkan.

Aisyah Rusnali

Selasa, 16 Juni 2020

RAMAI-RAMAI PAMER TOGA, RAMAI KOMENTAR WARGA



Sejatinya momen wisuda adalah salah satu momen yang paling dinanti bagi semua mahasiswa. Perjuangan menempuh pendidikan selama kurang lebih 4 tahun di bangku kuliah, akhirnya menemukan ujungnya. Pada kenyataannya momen wisuda hanyalah penantian pemindahan tali toga dalam hitungan menit. Namun, proses dibalik peristiwa itu adalah sebuah perjuangan panjang yang melelahkan.

Persiapan wisuda bagai persiapan pernikahan. Baju seragam wisuda yang telah disiapkan sebulan sebelum hari H, catering untuk syukuran, bangun subuh untuk makeup bagi kaum wanita, dan persiapan lain untuk menempuh hidup baru pascawisuda. Bahkan bagi sebagian masyarakat, prosesi  wisuda adalah ritual sakral yang tidak boleh dilewatkan. Maka tidak heran jika parkiran penuh pada saat penyelenggaraan wisuda, sebab dibalik 1 orang wisudawan terdapat 1 kompi keluarga yang turut serta. Bisa dibayangkan bagaimana  jika wisudawan jumlahnya ratusan atau ribuan.

Wisuda juga bagaikan tradisi piknik. Banyak yang mempersiapkan bekal makanan dari rumah. Buras, ayam, sokko, peco', bajabu', dll. Bahkan saya pernah menyaksikan ritual "baca-baca" yang dilakukan oleh keluarga wisudawan di area kampus pada saat wisuda. Dimana ritual "baca-baca" biasanya dilakukan oleh orang bugis untuk acara- acara penting. Seperti masuk rumah baru, setelah panen, memasuki bulan Ramadhan, pernikahan, dan acara-acara sakral lainnya.

Hampir seluruh alumni 2020 tidak dapat melaksanakan prosesi wisuda karena pandemi COVID-19. meskipun ada yang melaksanakan wisuda secara online, namun tentulah euforianya akan sangat jauh berbeda ketika wisuda dilaksanakan dalam sebuah gedung mewah dengan iringan lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas. 

Baru-baru ini warga net dihebohkan dengan fenomena baru. Foto- foto wisuda dari puluhan tahun yang lalu tiba-tiba ramai berseliweran di jagad maya. Foto dengan hashtag wisudaLDR tersebut, konon diperuntukkan untuk menghibur teman-teman alumni 2020 yang tidak dapat mengikuti wisuda karena COVID-19. Saya pertama kali melihat challenge upload foto wisuda tersebut di akun Instagram  Presenter kenamaan tanah air, Najwa Shihab. sekilas saya hampir tergoda untuk mengikuti challenge tersebut. Beruntungnya saya tidak menemukan file foto wisuda di laptop. kemudian saya berpikir, kok agak aneh yah? Benarkah unggahan tersebut betul- betul tepat sasaran? Benarkah menghibur?

keesokan harinya ramailah warga net berkomentar tentang challenge tersebut. Pro kontra pasti terjadi. ada yang mendukung, tak sedikit pula yang menghujat. saya mencoba menganalisa seperti ini, kira- kira jika saya berada di posisi adik- adik 2020 yang tidak dapat melaksanakan wisuda kemudian saya melihat orang-orang memamerkan foto wisudanya, perasaan saya bagaimana yah? jujur bukan hiburan yang saya dapatkan. Tapi sedih yang semakin mendalam. Ibaratnya kita menginginkan sebuah barang tapi uang kita tidak cukup untuk membelinya. kemudian kita melihat teman kita memamerkan foto dengan barang yang kita inginkan. rasanya sakit, tapi tidak berdarah. mungkin seperti itu. Tetapi kembali lagi, tidak ada yang dapat memahami maksud orang lain lebih baik dari Tuhan dan dirinya  sendiri. 

fenomena tersebut kembali membuktikan bagaimana kekuatan media dapat mempengaruhi pikiran dan mengubah perilaku manusia. Teori jarum hipodermik yang dipopulerkan oleh Harold Lasswell 100 tahun yang lalu kini benar adanya. Menurut teori jarum hipodermik, pesan digambarkan seperti sebuah peluru ajaib yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Teori ini juga menjelaskan bagaimana media mengontrol apa yang khalayak lihat dan apa yang khalayak dengar. Menurut teori ini, efek media terhadap khalayak massa bersifat langsung atau tertunda di masa depan

Sejatinya media massa diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menyebarkan informasi bermanfaat kepada orang banyak. Namun kebanyakan manusia saat ini menggunakan media massa khusunya media sosial sebagai sarana mengekspresikan diri untuk sekedar memperoleh ketenaran tanpa menimbang manfaatnya. Oleh karena itu, setiap pengguna media massa harus pandai memilih  apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengarkan, sebab filter terbaik bagi efek media adalah diri kita sendiri. Gunakan kedua tangan sebagai  penutup mata dan telinga untuk hal- hal yang tidak perlu kita lihat dan tidak perlu kita dengar. Gunakan pikiran untuk mencerna jika terlanjur melihat dan mendengar sesuatu yang tidak perlu itu, gunakan hati nurani yang bersumber dari keimanan untuk menetralisir semua pengaruh buruk media, In Syaa Allah kita kan menjadi manusia yang kebal terhadap terpaan buruk media apapun. jamaahhhh...ohh...jamaah....Alhamdulillah.


Aisyah Rusnali

Sabtu, 06 Juni 2020

KRISIS PERCAYA DIRI PENYEBAB KRISIS KOMUNIKASI

Istilah krisis tentunya tidak asing lagi di telinga kita. Tahun 1998 saat peralihan dari masa Orde Baru ke masa Reformasi, krisis ekonomi dan moneter atau biasa disingkat krismon hampir tiap hari kita dengarkan dipemberitaan.  saat ini istilah krisis pasca pandemi COVID-19 mencuat kembali. Hampir semua Negara terdampak pandemic COVID-19, mengalami krisis ekonomi. Namun kali ini, saya tidak akan membahas tentang krisis ekonomi. Saya hanya berusaha mengantarkan anda mengingat kembali  kondisi krisis seperti apa.

Krisis diartikan sebagai kondisi yang berbahaya, keadaan yang genting, keadaan yang suram (KBBI). Pernahkah kita berada pada situasi dimana kita merasa tidak nyaman dengan pakaian yang kita pakai? Atau pada saat ujian, kita merasa gelisah karena tidak belajar. Terkadang kita juga merasa malu untuk berbicara di hadapan orang banyak, intinya kita merasa kurang percaya diri dalam suatu keadaan. Kita sering menganggap sepele hal- hal tersebut. Padahal tanpa kita sadari, kita sedang mengalami krisis percaya diri pada saat itu.

Banyak orang yang mengatakan dirinya pemalu, sehingga dia tidak berani berbicara di hadapan orang banyak. Hal itu sudah tersetting dalam pikirannya selama bertahun- tahun. Sehingga alasan “pemalu” sering dijadikan kambing hitam terhadap situasi krisis percaya diri yang dialami. Beberapa peneliti mengatakan bahwa sifat pemalu diturunkan dari gen, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.  sifat malu akan berdampak pada rendahnya tingkat kepercayaan diri seseorang. Dan kurangnya rasa percaya diri dapat  menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis komunikasi.

Sebagai contoh, saya biasa memberikan kuis kepada mahasiswa diakhir sesi perkuliahan. Pertanyaannya sederhana, seputar topik yang dibahas pada hari itu. Pada saat saya memberikan pertanyaan, hanya satu atau dua mahasiswa yang mengacungkan tangan dan bersedia menjawab pertanyaan dengan sukarela. Kemudian saya memberikan kesempatan kembali dengan mengatakan “ ada lagi  yang mau menjawab?”. Semua diam, ada yang tunduk, ada  yang pura- pura membaca, ada juga yang seolah- olah berdiskusi. Namun ketika saya menyebutkan beberapa nama dan meminta mereka untuk menjawab, mereka dengan mudah  memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan kuis. Hal ini membuktikan bahwa, sebenarnya mereka tahu dan bisa menjawab. Hanya saja mereka masih kurang PD untuk berbicara di depan umum jika tidak dipaksa. Alasannya macam- macam, takut salah, takut dikatakan sok pintar, malu, dan alasan- alasan klise lainnya.

Adalah hal yang wajar jika manusia memiliki rasa malu. Sebab dalam Islam, malu adalah salah satu sifat yang terpuji. Tapi malu yang dimaksudkan disini adalah, perasaan malu ketika kita berbuat maksiat di hadapan Allah.  Krisis PD dapat diatasi dengan banyak cara. Misalnya, memperbanyak link pertemanan yang berfaedah, menambah referensi bacaan, menonton tayangan yang bermanfaat, dan yang tidak kalah penting rajinlah berlatih agar terbiasa tampil di depan orang banyak. Karena segala sesuatu akan terasa mudah apabila telah terbiasa. Kemudian yakinlah, bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Saat ini muncul spesies manusia jenis baru. Yakni manusia yang malu bertemu langsung dengan manusia lain, tapi sangat hyperaktif di depan lensa kamera.hehe…#justajoke

(Aisyah Rusnali)

MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

  Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi ...