Allah SWT menurunkan kitab Al-Qur'an melalui perantara
Rasulullah sebagai petunjuk bagi umat manusia di muka bumi. Alquran begitu
kompleks memuat tentang ajaran- ajaran kehidupan, proses penciptaan langit dan
bumi, penciptaan jin dan manusia, kisah para Nabi ratusan juta tahun yang lalu,
ilmu pengetahuan, dan segalanya terdapat dalam Alquran. Kita semua sebenarnya
sadar akan hal itu. Namun terkadang kesibukan menjadi kambing hitam sehingga
kita lalai dalam membaca dan mentadabburi pesan- pesan cinta Allah yang
terdapat dalam Al-Qur'an. Astagfirullah…
Alam raya diciptakan Allah SWT sebagai tempat tinggal
manusia dan seluruh mahluk ciptaannya. Namun pernahkah kita menyadari bahwa
alam raya juga merupakan kitab yang dibentangkan Allah agar manusia mengambil pelajaran
dan hikmah dari segala peristiwa yang terjadi? Saya mengambil contoh kasus seperti
ini, dipagi hari ketika Ahmad akan berangkat ke kantor tiba- tiba Ahmad
tersandung batu kecil di depan rumah. Ahmad menggerutu, “ahh… kenapa harus terjatuh sih? “Padahal
dia sedang buru- buru karena takut akan telat tiba di kantor. Bukan hanya
menggerutu, Ahmad bahkan tidak sadar mengumpat ke batu kecil tadi. Akhirnya Ahmadpun
berngkat ke kantor dengan perasaan yang gusar, campur aduk antara sakit karena
jatuh dan takut terlambat. Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad melihat orang
ramai di tengah jalan, diapun kembali
menggerutu, “aduhh… tambah telat deh”. ahmadpun akhirnya turun dari
kendaraan dan menghampiri keramaian orang. Ternyata telah terjadi sebuah
kecalakaan sekitar 5 menit yang lalu. Barulah si Ahmad sadar bahwa, 5 menit
yang lalu dia sedang tersandung batu kecil dan telah diselamatkan oleh Allah
dari kecelakaan yang besar .
Lain si Ahmad, lain pula dengan si Ani. Ani sedang merasakan hatinya berbunga- bunga
karena baru saja dilamar oleh sang pujaan hati setelah pendekatan 6 bulan dan
akhirnya Ta’aruf 9 tahun. Persiapan pernikahanpun
dilakukan, mulai dari memesan gedung pernikahan, catering, dekorasi, cetak
undangan, foto prewed, sampai memesan tiket bulan madu ke Eropa. Begitu matang
dan indah rencana pernikahan mereka. Namun satu minggu sebelum hari H, sang
calon mempelai pria tiba- tiba ingin membatalkan acara pernikahan mereka tanpa alasan yang jelas. Hancurlah
hati si Ani dan keluarganya menanggung malu yang teramat sangat. Si Ani
frustrasi sampai tidak berani keluar rumah karena merasa malu. Singkat cerita,
datanglah seorang pria yang belum lama dikenal dan memiliki niat untuk meminang
si Ani. Setelah istikharah, tanpa pikir panjang lamaran diterima dan akhirnya
merekapun menikah. 2 bulan setelah pernikahan mereka, Ani mendapat kabar bahwa
mantan calon suaminya yang dulu ditangkap polisi karena terjerat kasus narkoba.
Ternyata begitulah cara Allah menyelamatkan Ani dari hal yang buruk. seindah- indahnya rencana manusia, rencana Allah pasti jauh lebih indah.
Tentunya dalam kehidupan ini, kita sering atau bahkan pernah
mengalami kejadian- kejadian serupa. Ditipu teman, uang dibawa kabur oleh orang
yang kita percayai, dan masih banyak lagi hal- hal tidak menyenangkan yang kita
lalui. Sesaat kita jengkel, marah, menangis semalam, dan melakukan hal- hal
untuk meluapkan kemarahan, tanpa kita sadari bahwa begitulah cara Allah
mencintai kita. Allah ingin kita belajar
semiotika komunikasi dari tanda- tanda
alam yang diberikan. Bukankah kita
meyakini bahwa tidak ada satu daunpun yang jatuh tanpa kehendak Allah? Artinya kita
meyakini bahwa, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, yang terjadi terhadap
kehidupan kita, adalah kehendak dari Allah sang pemilik kehidupan. Kita tidak suka jika ada teman yang menipu, Allah ingin kita belajar untuk tidak melakukan hal
itu kepada orang lain. Banyak bencana alam yang terjadi, namun kita sebagai
manusia masih kurang peka dengan tanda yang diberikan Allah kepada kita.
manusia masih sering menebang pohon, membuang sampah sembarangan, sehingga
bencana banjir dan tanah longsor masih sering
terjadi. Setiap hari kita mendengar dan
menyaksikan berita kematian. Allah ingin kita sadar, bahwa suatu saat nanti
kita akan melewati proses yang sama. Semoga kita lebih bijak lagi dan lebih
bisa memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita kedepannya.
Sebagai penutup tulisan ini, saya
mengutip sebuah kalimat indah dari Wahyu Sujani,
“Langit adalah kitab yang terbentang…
Bumi adalah kitab yang terhampar…
Manusia adalah kitab yang berjalan…
Sedangkan Al-Qur’ an adalah cahaya di dalam kegelapan…”




