Sabtu, 30 Mei 2020

ETIKA KOMUNIKASI TERGERUS MODERNISASI

ETIKA KOMUNIKASI TERGERUS MODERNISASI



Kita sering mendengar istilah “etika” dalam kehidupan sehari- hari. Kita makan, bekerja, berbicara, berjalan, beribadah, semua ada etikanya. Ketika ditanya apa pengertian etika? Dengan gamblang kita menjawab etika adalah aturan.  Namun, menurut Tuan Guru Besar KBBI, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Jadi ketika kita menjawab etika adalah aturan, itu adalah kesimpulan dari pengertian etika menurut KBBI. Segala sesuatu yang berkenaan dengan hal  yang baik atau hal yang buruk kita istilahkan dengan etika atau aturan.

Demikian juga istilah “komunikasi”, tentunya sangat tidak asing lagi ditelinga kita. Mulai saat kita terbangun dipagi hari, kemudian berangkat ke kantor, pulang ke rumah, sampai beristirahat kembali di malam hari, semuanya dipenuhi dengan aktifitas komunikasi. Sebab tidak ada manusia normal yang tidak membutuhkan komunikasi. Saya pernah bertanya  pada mahasiswa tentang definisi komunikasi. Jawaban merekapun bermacam- macam. Ada yang menjawab komunikasi adalah bercakap- cakap. Ada pula yang mengatakan komunikasi adalah ketika saya menelpon orang lain menggunakan handphone. Dan jawaban yang paling mengesankan adalah komunikasi itu adalah aktifitas orang- orang yang bekerja di Telkom. Sebenarnya jawaban mereka tidak ada yang salah, namun kurang ilmiah. Karena pengertian komunikasi yang disepakati oleh para pakar adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ( pemberi pesan) kepada komunikan (penerima pesan).

Lalu, apa pengertian dari “etika komunikasi”? jika melihat penjelasan di atas, maka dapat  kita uraikan bahwa etika komunikasi adalah ilmu yang mengatur tentang hal yang baik dan yang buruk dalam proses pertukaran pesan. Pernahkah kita berpikir bahwa, etika anak- anak Jaman Now sudah sangat jauh berbeda dari etika anak- anak jaman old? Saya merasa bahwa perilaku anak- anak jaman sekarang berbeda dengan perilaku saya waktu masih kanak- kanak. Atau mungkin saya hanya terbawa perasaan.

Namun jika memutar kembali memori saat masih dibangku Sekolah Dasar, saya masih ingat betul bagaimana rasanya kayu rotan jika ada yang berani berbicara saat  Bapak/Ibu Guru sedang menjelaskan. Jika ingin ke kantin, saya dan teman- teman mencari jalan lain asal tidak lewat di depan ruang Guru. Jika sangat mengharuskan melewati ruang Guru, maka kami berjalan sambil membungkuk dengan tangan kanan nyaris menyentuh tanah. Orang bugis mengistilahkan dengan “Mappatabe’”.  Padahal Guru di dalam ruangan tidak ada yang memperhatikan kami, karena mereka sibuk bercakap- cakap. Namun tetap saja ada rasa sungkan yang teramat sangat dalam.

Saat dibangku kuliah, momen menghubungi  Dosen Via Telepon ataupun SMS adalah salah satu momen paling mendebarkan. Untuk sekedar mengingatkan jadwal perkuliahan atau bermaksud meminta tanda tangan KRS, SMS dikonsep dengan metode ketik- hapus agar tidak salah dalam memilih kata- kata yang sopan. Namun saat ini, ketika saya menerima pesan Whatsapp dari mahasiswa, saya mengira itu pesan dari teman kuliah atau teman sesama dosen. Kalimat pesannya kebanyakan bernada curhat, apa lagi jika mereka bermaksud ijin tidak mengikuti kuliah.  

Zaman terus mengalami perubahan. Tentunya segala bidang kehidupan juga turut mengalami perubahan. Tidak terkecuali teknologi informasi yang semakin hari perkembangannya semakin pesat. Generasi muda saat ini tidak lagi kesulitan memperoleh berbagai macam informasi dimanapun dan kapanpun. Akses internet hampir telah menjangkau seluruh bagian terkecil pelosok tanah air. Setiap hari anak- anak remaja mengonsumsi tontonan dan informasi  dari berbagai penjuru dunia. Sehingga tidak mengherankan kerap kita menjumpai anak atau keponakan kita yang masih duduk di bangku sekolah dasar sudah hafal dengan lagu dan tarian Girl Band asal Korea Selatan, Black Pink. Tren Youtuber juga tidak kalah pamor saat ini, tidak heran jika banyak anak usia balita yang tidak lagi bercita- cita menjadi Dokter ataukah Polisi, namun bercita- cita menjadi seorang Youtuber. Kemudian ketika kita berpapasan mereka akan menyapa kita “ halo guys”. Itulah dampak modernisasi yang banyak dikhawatirkan oleh orang tua kita dahulu. Lalu bagaimana dengan etika dan adat ketimuran yang dijunjung tinggi oleh nenek moyang kita sejak dulu kala?

Sejatinya pelajaran etika secara khusus memang tidak kita terima dibangku sekolah. Pesan moral tentang etika kehidupan berbangsa biasanya hanya kita temui dimata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bagaimana kita berjalan dengan baik, bertingkah laku dengan baik, bertutur kata dengan baik, sebagian besar kita dapatkan dari pendidikan nonformal dalam kehidupan sehari- hari. Peran keluarga sebagai tempat kita tumbuh dan berkembang tentunya sangat mempengaruhi perilaku dan adat istiadat kita dalam pergaulan. Tentulah menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua orang tua, khususnya tenaga pendidik. Bagaimana kita dapat menanamkan nilai- nilai yang baik kepada anak kita, siswa, ataupun mahasiswa. Mengingat perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern ini. Tidaklah mungkin bagi kita menarik diri dari pergaulan dan kemajuan teknologi, sebab setiap detik informasi berubah bagaikan denyut jantung. Tidak perlu memilih bagian  mana yang harus diutamakan. Sebab semua dapat berjalan seiring sejalan sehingga kita   mampu menjadi manusia modern yang beretika.

MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

  Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi ...