Minggu, 13 September 2020

Bahagiamu Terletak Pada Rasa Syukurmu

 Definisi kebahagiaan itu relatif, akan berbeda pada setiap orang. Yang pasti definisi bahagia itu bukanlah"popularitas". Sebab jika kebahagiaan itu terletak pada popularitas, tidaklah mungkin seorang marlyn monroe aktris terkenal dunia akan mati karena overdosis. Kebahagiaan bukan pula terletak pada "harta". Sebab banyak pula orang dengan harta berlimpah namun rela mengakhiri hidupnya karena depresi.


Ada orang yang hanya mampu membeli beras dan lauk seadanya, namun dia makan dengan begitu lahap dan bahagia. Banyak orang yang tidur beralaskan tanah, namun tidurnya sangat lelap, dan dia bangun dengan perasaan bahagia.

Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan dan menyaksikan kebahagiaan orang lain yang belum tentu kebenarannya, sehingga kita lupa menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Si anu enak yah hidupnya,bisa beli ini, beli itu. Si itu enak yah, bisa kesana kesini pake mobil mewah,adem,nyaman, dll. Kita lupa bahwa dunia ini hanya perhiasan yang fana.

Bahagia itu terletak dari seberapa mampu kita untuk mensyukuri segala yang Tuhan berikan. Ketika diberi cobaan,kita bersyukur,maka kita akan merasa bahagia. Sebab ketika kita menginginkan lebih dari yang telah diberikan, yakinlah kita tidak akan pernah merasa bahagia. 

Minggu, 06 September 2020

Perkataanmu adalah Doamu

 


Dalam kehidupan kita, tentunya kita akan mengeluarkan ratusan atau bahkan ribuan kata setiap hari. Hal ini tidak dapat kita hindari, sebab kata yang kita keluarkan adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. kita sering mendengarkan kalimat yang berbunyi “perkataan adalah Doa”. Bahkan mungkin kita sering mengucapkannya pada saat kita sedang berbicara dengan teman, sahabat, ataupun keluaga. Hal ini sejalan pula dengan  sebuah hadist yang berbunyi “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”( HR.Bukhari dan Muslim).

Kita dianjurkan untuk berkata yang baik saja, sebab boleh jadi apa yang kita katakan akan menjadi doa bagi diri sendiri ataupun orang lain. Saya teringat dengan pengalaman beberapa tahun silam. Saat saya masih melanjutkan studi Magister di kota Makassar. Seorang teman bertanya, “jika selesai kuliah, kamu akan kerja dimana?” tanpa pikir panjang saya menjawab “ saya akan kembali mengabdi di kampung halaman saya”. Padahal saat itu, saya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali bekerja di tanah kelahiran saya. Dan benar saja, Allah mengijabah apa yang saya katakan waktu itu. Saya ditakdirkan kembali mengabdi untuk tanah kelahiran saya tercinta.

Namun terkadang kita lupa, bahwa perkataan adalah doa. kata- kata yang kita keluarkan, tidak semuanya perkataan yang baik. Apa lagi pada saat marah, seringkali kita mengeluarkan kata- kata yang tidak sepantasnya kita ucapkan. Perkataan itu mungkin keluar begitu saja tanpa kita sadari. Lalu dikemudian hari,  suatu hal tiba- tiba terjadi pada kehidupan kita. Dan hal tersebut persis dengan ucapan kita pada saat marah. Yah, karena perkataan adalah doa.

tentunya sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari salah dan khilaf, berkata yang baik saja bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hal ini akan menjadi self reminder buat saya pribadi yang terkadang masih sulit untuk mengontrol setiap produksi kata- kata yang  keluar dari mulut ini.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

”Seseorang mati karena tersandung lidahnya

Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya

Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya

Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”


MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

  Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi ...