Sejatinya momen wisuda adalah salah satu momen yang paling dinanti bagi semua mahasiswa. Perjuangan menempuh pendidikan selama kurang lebih 4 tahun di bangku kuliah, akhirnya menemukan ujungnya. Pada kenyataannya momen wisuda hanyalah penantian pemindahan tali toga dalam hitungan menit. Namun, proses dibalik peristiwa itu adalah sebuah perjuangan panjang yang melelahkan.
Persiapan wisuda bagai persiapan pernikahan. Baju seragam wisuda yang telah disiapkan sebulan sebelum hari H, catering untuk syukuran, bangun subuh untuk makeup bagi kaum wanita, dan persiapan lain untuk menempuh hidup baru pascawisuda. Bahkan bagi sebagian masyarakat, prosesi wisuda adalah ritual sakral yang tidak boleh dilewatkan. Maka tidak heran jika parkiran penuh pada saat penyelenggaraan wisuda, sebab dibalik 1 orang wisudawan terdapat 1 kompi keluarga yang turut serta. Bisa dibayangkan bagaimana jika wisudawan jumlahnya ratusan atau ribuan.
Wisuda juga bagaikan tradisi piknik. Banyak yang mempersiapkan bekal makanan dari rumah. Buras, ayam, sokko, peco', bajabu', dll. Bahkan saya pernah menyaksikan ritual "baca-baca" yang dilakukan oleh keluarga wisudawan di area kampus pada saat wisuda. Dimana ritual "baca-baca" biasanya dilakukan oleh orang bugis untuk acara- acara penting. Seperti masuk rumah baru, setelah panen, memasuki bulan Ramadhan, pernikahan, dan acara-acara sakral lainnya.
Hampir seluruh alumni 2020 tidak dapat melaksanakan prosesi wisuda karena pandemi COVID-19. meskipun ada yang melaksanakan wisuda secara online, namun tentulah euforianya akan sangat jauh berbeda ketika wisuda dilaksanakan dalam sebuah gedung mewah dengan iringan lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas.
Baru-baru ini warga net dihebohkan dengan fenomena baru. Foto- foto wisuda dari puluhan tahun yang lalu tiba-tiba ramai berseliweran di jagad maya. Foto dengan hashtag wisudaLDR tersebut, konon diperuntukkan untuk menghibur teman-teman alumni 2020 yang tidak dapat mengikuti wisuda karena COVID-19. Saya pertama kali melihat challenge upload foto wisuda tersebut di akun Instagram Presenter kenamaan tanah air, Najwa Shihab. sekilas saya hampir tergoda untuk mengikuti challenge tersebut. Beruntungnya saya tidak menemukan file foto wisuda di laptop. kemudian saya berpikir, kok agak aneh yah? Benarkah unggahan tersebut betul- betul tepat sasaran? Benarkah menghibur?
keesokan harinya ramailah warga net berkomentar tentang challenge tersebut. Pro kontra pasti terjadi. ada yang mendukung, tak sedikit pula yang menghujat. saya mencoba menganalisa seperti ini, kira- kira jika saya berada di posisi adik- adik 2020 yang tidak dapat melaksanakan wisuda kemudian saya melihat orang-orang memamerkan foto wisudanya, perasaan saya bagaimana yah? jujur bukan hiburan yang saya dapatkan. Tapi sedih yang semakin mendalam. Ibaratnya kita menginginkan sebuah barang tapi uang kita tidak cukup untuk membelinya. kemudian kita melihat teman kita memamerkan foto dengan barang yang kita inginkan. rasanya sakit, tapi tidak berdarah. mungkin seperti itu. Tetapi kembali lagi, tidak ada yang dapat memahami maksud orang lain lebih baik dari Tuhan dan dirinya sendiri.
fenomena tersebut kembali membuktikan bagaimana kekuatan media dapat mempengaruhi pikiran dan mengubah perilaku manusia. Teori jarum hipodermik yang dipopulerkan oleh Harold Lasswell 100 tahun yang lalu kini benar adanya. Menurut teori jarum hipodermik, pesan digambarkan seperti sebuah peluru ajaib yang memasuki pikiran khalayak dan menyuntikkan beberapa pesan khusus. Teori ini juga menjelaskan bagaimana media mengontrol apa yang khalayak lihat dan apa yang khalayak dengar. Menurut teori ini, efek media terhadap khalayak massa bersifat langsung atau tertunda di masa depan.
Sejatinya media massa diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menyebarkan informasi bermanfaat kepada orang banyak. Namun kebanyakan manusia saat ini menggunakan media massa khusunya media sosial sebagai sarana mengekspresikan diri untuk sekedar memperoleh ketenaran tanpa menimbang manfaatnya. Oleh karena itu, setiap pengguna media massa harus pandai memilih apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengarkan, sebab filter terbaik bagi efek media adalah diri kita sendiri. Gunakan kedua tangan sebagai penutup mata dan telinga untuk hal- hal yang tidak perlu kita lihat dan tidak perlu kita dengar. Gunakan pikiran untuk mencerna jika terlanjur melihat dan mendengar sesuatu yang tidak perlu itu, gunakan hati nurani yang bersumber dari keimanan untuk menetralisir semua pengaruh buruk media, In Syaa Allah kita kan menjadi manusia yang kebal terhadap terpaan buruk media apapun. jamaahhhh...ohh...jamaah....Alhamdulillah.
Aisyah Rusnali

Asik sekali Ka'..
BalasHapusSaya dua kali wisuda blm pernah dapat ritual pindah tali toga...wkwkwkkwk
BalasHapusMantap dinda
BalasHapusInspiratif
BalasHapusMantap tulisannya
BalasHapus