Belum terjawab rasa penasaran saya, beberapa hari kemudian
kembali muncul fenomena tiga orang ibu-ibu berbaju kuning dan sepatu kuning
bertiktok ria di jembatan suramadu. Mereka menari dengan gemulai. Mengingatkan saya pada group
kasidah rebanah Tujuh belasan. Aduh ibu,
kenapa menari di jembatan sih? Kalau jatuh
bisa ngambang loh. Pakai baju kuning pula.
Alhamdulillah, pagi ini saya mendapatkan jawabannya saat
menyaksikan tayangan berita CNN di televisi. Menurut seorang sosiolog Universitas
Indonesia, saat ini masyarakat mengalami “Cabin Fever”. Ini adalah sebuah
kondisi dimana seseorang harus mengisolasi diri dalam waktu lama dengan
berbagai permasalahan internal dan eksternal. Contoh faktor internal diantaranya ketidak
harmonisan keluarga, atau tidak ada fasilitas yang menunjang kegiatan di rumah.
Sedangkan faktor eksternal Misalnya ketidak puasan dengan kebijakan yang ada, atau
faktor budaya yang melatar belakangi. Mengingat kebiasaan masyarakat Indonesia
yang senang berkumpul dan berkerumun. Menurut
PR Manager GBK, masyarakat yang datang ke GBK dan betul-betul berolahraga hanya
40 persen. Sedangkan yang 60 persen lebih ke piknik dan berswafoto.
Dari fenomena tersebut, tentunya kita dapat mengambil banyak
pelajaran. Istilah “ manusia adalah mahluk sosial” bukan hanya sekedar istilah,
melainkan sebuah fakta yang terpampang nyata. Manusia tidak bisa hidup tanpa
bersosialisasi dengan orang lain seintrovert apapun pribadinya. Hewan yang tidak
dibekali dengan akal pikiranpun jika dikurung akan mengalami stres, apalagi
manusia yang dibekali dengan akal, pikiran, dan perasaan yang sering Baper. Baru
juga menjadi tahanan rumah selama 3 bulan sudah stress, bagaimana jika 3 tahun?
Kenormalan Baru atau lebih dikenal dengan istilah New Normal
adalah, kondisi yang terjadi sebagai
upaya kesiapan untuk melakukan aktivitas di luar rumah secara optimal
pascapandemi berlangsung. masyarakat dituntut untuk kooperatif dengan aturan
yang ada agar dapat beradaptasi dengan
perilaku yang baru. Pandemi belum sepenuhnya berakhir, namun kehidupan harus
terus berlanjut. New Normal adalah upaya yang kita lakukan sebagai bentuk
pemutusan mata rantai COVID-19 dan upaya untuk melanjutkan hidup yang lebih
baik. Tentunya semua pihak harus bersinergi agar dapat melewati semua musibah
ini. New normal bukan berarti kita dapat
dengan bebas melakukan aktivitas di luar rumah seperti dahulu kala. Aktivitas dari
rumah masih lebih diutamakan sampai kondisi betul- betul kondusif atau vaksin
telah ditemukan. Oleh karena itu, mari
tetap bijak menyikapi segala kebijakan pemerintah. Tetap jaga kesehatan fisik
maupun mental, agar kita tetap menjadi manusia yang Normal di Era New Normal.


Up normal lagi trend di era new normal🤣🤣
BalasHapusBikin ngiler makan mi di uonormal.wkwkwkwkwk
Hapus👍 hebat tulisannya. semoga kita sll jd manusia normal di tengah ketidak normalan.
BalasHapusAamiin...terima kasih bu...
HapusSituasi blm normal, tp masyarakat menganggap sdh normal dan menjadikan keadaan ini sekedar untuk menghilangkan stres dgn berpiknik dan berswafoto.
BalasHapusNgomong2. Sdh qt kirim tulisanta di buku kolaborasi new normal de?
Betul bu... justru semakin bahaya.krn masyarakat sudah keluar rumah semua.
BalasHapusIyee sudah ibu..
Mantap dinda..miris melihat keadaan new normal, para ibu berjoget cari sensasi akhirnya dapat sanksi
BalasHapusbetul bu. segala cara dilakukan demi viral
HapusSebagian dari masyarakat Indonesia sepertinya bukan mengikuti new normal tapi kembali normal k'..
BalasHapusBetul sekali dek
Hapusmantap bu
BalasHapusTerima kasih bu doktor...
Hapus