Dalam kehidupan kita, tentunya kita akan mengeluarkan
ratusan atau bahkan ribuan kata setiap hari. Hal ini tidak dapat kita hindari,
sebab kata yang kita keluarkan adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan
orang lain. kita sering mendengarkan kalimat yang berbunyi “perkataan adalah
Doa”. Bahkan mungkin kita sering mengucapkannya pada saat kita sedang berbicara
dengan teman, sahabat, ataupun keluaga. Hal ini sejalan pula dengan sebuah hadist yang berbunyi “Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau
hendaklah ia diam.”( HR.Bukhari dan Muslim).
Kita dianjurkan untuk berkata yang baik saja, sebab boleh
jadi apa yang kita katakan akan menjadi doa bagi diri sendiri ataupun orang
lain. Saya teringat dengan pengalaman beberapa tahun silam. Saat saya masih
melanjutkan studi Magister di kota Makassar. Seorang teman bertanya, “jika
selesai kuliah, kamu akan kerja dimana?” tanpa pikir panjang saya menjawab “
saya akan kembali mengabdi di kampung halaman saya”. Padahal saat itu, saya
sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali bekerja di tanah kelahiran
saya. Dan benar saja, Allah mengijabah apa yang saya katakan waktu itu. Saya ditakdirkan
kembali mengabdi untuk tanah kelahiran saya tercinta.
Namun terkadang kita lupa, bahwa perkataan adalah doa. kata-
kata yang kita keluarkan, tidak semuanya perkataan yang baik. Apa lagi pada
saat marah, seringkali kita mengeluarkan kata- kata yang tidak sepantasnya kita
ucapkan. Perkataan itu mungkin keluar begitu saja tanpa kita sadari. Lalu dikemudian
hari, suatu hal tiba- tiba terjadi pada
kehidupan kita. Dan hal tersebut persis dengan ucapan kita pada saat marah. Yah,
karena perkataan adalah doa.
tentunya sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari
salah dan khilaf, berkata yang baik saja bukanlah hal yang mudah untuk
dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hal ini akan menjadi self
reminder buat saya pribadi yang terkadang masih sulit untuk mengontrol setiap
produksi kata- kata yang keluar dari
mulut ini.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
”Seseorang mati karena tersandung lidahnya
Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya
Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya
Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar