Sabtu, 06 Juni 2020

KRISIS PERCAYA DIRI PENYEBAB KRISIS KOMUNIKASI

Istilah krisis tentunya tidak asing lagi di telinga kita. Tahun 1998 saat peralihan dari masa Orde Baru ke masa Reformasi, krisis ekonomi dan moneter atau biasa disingkat krismon hampir tiap hari kita dengarkan dipemberitaan.  saat ini istilah krisis pasca pandemi COVID-19 mencuat kembali. Hampir semua Negara terdampak pandemic COVID-19, mengalami krisis ekonomi. Namun kali ini, saya tidak akan membahas tentang krisis ekonomi. Saya hanya berusaha mengantarkan anda mengingat kembali  kondisi krisis seperti apa.

Krisis diartikan sebagai kondisi yang berbahaya, keadaan yang genting, keadaan yang suram (KBBI). Pernahkah kita berada pada situasi dimana kita merasa tidak nyaman dengan pakaian yang kita pakai? Atau pada saat ujian, kita merasa gelisah karena tidak belajar. Terkadang kita juga merasa malu untuk berbicara di hadapan orang banyak, intinya kita merasa kurang percaya diri dalam suatu keadaan. Kita sering menganggap sepele hal- hal tersebut. Padahal tanpa kita sadari, kita sedang mengalami krisis percaya diri pada saat itu.

Banyak orang yang mengatakan dirinya pemalu, sehingga dia tidak berani berbicara di hadapan orang banyak. Hal itu sudah tersetting dalam pikirannya selama bertahun- tahun. Sehingga alasan “pemalu” sering dijadikan kambing hitam terhadap situasi krisis percaya diri yang dialami. Beberapa peneliti mengatakan bahwa sifat pemalu diturunkan dari gen, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.  sifat malu akan berdampak pada rendahnya tingkat kepercayaan diri seseorang. Dan kurangnya rasa percaya diri dapat  menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis komunikasi.

Sebagai contoh, saya biasa memberikan kuis kepada mahasiswa diakhir sesi perkuliahan. Pertanyaannya sederhana, seputar topik yang dibahas pada hari itu. Pada saat saya memberikan pertanyaan, hanya satu atau dua mahasiswa yang mengacungkan tangan dan bersedia menjawab pertanyaan dengan sukarela. Kemudian saya memberikan kesempatan kembali dengan mengatakan “ ada lagi  yang mau menjawab?”. Semua diam, ada yang tunduk, ada  yang pura- pura membaca, ada juga yang seolah- olah berdiskusi. Namun ketika saya menyebutkan beberapa nama dan meminta mereka untuk menjawab, mereka dengan mudah  memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan kuis. Hal ini membuktikan bahwa, sebenarnya mereka tahu dan bisa menjawab. Hanya saja mereka masih kurang PD untuk berbicara di depan umum jika tidak dipaksa. Alasannya macam- macam, takut salah, takut dikatakan sok pintar, malu, dan alasan- alasan klise lainnya.

Adalah hal yang wajar jika manusia memiliki rasa malu. Sebab dalam Islam, malu adalah salah satu sifat yang terpuji. Tapi malu yang dimaksudkan disini adalah, perasaan malu ketika kita berbuat maksiat di hadapan Allah.  Krisis PD dapat diatasi dengan banyak cara. Misalnya, memperbanyak link pertemanan yang berfaedah, menambah referensi bacaan, menonton tayangan yang bermanfaat, dan yang tidak kalah penting rajinlah berlatih agar terbiasa tampil di depan orang banyak. Karena segala sesuatu akan terasa mudah apabila telah terbiasa. Kemudian yakinlah, bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Saat ini muncul spesies manusia jenis baru. Yakni manusia yang malu bertemu langsung dengan manusia lain, tapi sangat hyperaktif di depan lensa kamera.hehe…#justajoke

(Aisyah Rusnali)

8 komentar:

MEDIA SOSIAL DAN DEKADENSI MORAL

  Kebutuhan akan informasi yang cepat dan akurat menjadikan media sosial banyak digandrungi semua kalangan. Dalam hitungan detik, informasi ...